(Seandainya) Batas Itu Tidak Pernah Terlewati
Oleh : E.S. ITO
Hampir dua setengah milenium yang silam Plato menulis Timaeus
and Critias. Dibandingkan karya Plato yang lainnya seperti,
Republic atau Akademi Athena, Timaeus and Critias tidak bisa
dikatakan sebagai karya yang istimewa. Kalau bukan karena
nukilan dialog di dalam kitab itu, Timaeus and Critias akan
terkubur di bawah tumpukan karya Plato lainnya. Nukilan dialog
yang bersumber dari cerita Solon yang mendapatkan kisah dari
para pendeta di Kota Sais, Mesir kuno itulah yang hingga hari
ini menjadi salah satu misteri terbesar di dunia. Sebuah kisah
tentang dunia pada masa manusia modern belum mencatatnya
sebagai periode sejarah, kisah tentang benua yang hilang,
Atlantis. Sejak ratusan tahun silam, orang-orang yang terobsesi
dengan kisah Plato itu hidup dalam “dunia konon”, berteori
tentang benua yang hilang itu tetapi hingga sekarang belum
pernah ditemukan bukti empirik tentang keberadaan benua yang
hilang itu. Sampai dengan saat ini, kisah Atlantis hanya
menguntungkan penulis fiksi, pembuat film dan pembual-pembual
gila di atas panggung.
Dulu, kita menikmati berbagai kisah serba konon tentang Atlantis
layaknya dongeng pengantar tidur. Cerita mengenai benua yang
hilang itu adalah sesuatu yang sangat berjarak dengan alam
pemikiran manusia Indonesia. Sebagian kecil dari kita mengamati
orang-orang dari luar sana berteori-konon tentang Atlantis.
Mulai dari Francesco Lopez de Gomara yang berani menyatakan
Atlantis terletak di Amerika. Kemudian tiga orang sejarawan
Maya, Abbe Brasseur de Bourbourg, Augustus Le Plongeon dan
Edward Herbert Thompson yang percaya bahwa orang-orang Indian
Maya adalah keturunan langsung dari orang-orang Atlantis.
Sebagian lagi mengangkat teori arkeolog Yunani Spyridon Marinatos
yang menyatakan mitos Atlantis diambil dari kisah tenggelamnya
Pulau Thera dekat Pulau Creta, Yunani.
Pada awal tahun 2005, ketika saya mulai menulis novel Negara Kelima,
saya menemukan teori-konon yang ganjil di antara teori-teori serba
konon yang berjarak realitas dengan Indonesia. Teori itu berasal
dari seorang Amerika bernama William Lauritzen yang coba melakukan
penelitian komparatif tentang mitos Atlantis termasuk dengan
menggunakan foto udara. Hipotesisnya mengejutkan, terbuka kemungkinan
benua yang hilang itu tenggelam di wilayah Nusantara. Dalam cakupan
wilayah negara Republik Indonesia. Mengejutkan, tentu saja. Tetapi
layaknya perlakuan saya terhadap data sejarah, data-data itu hanya
akan berarti bila memiliki daya guna dalam memperkaya tulisan saya.
Di Indonesia, Negara Kelima dalam pengaruhnya yang terbatas, menegaskan
gosip-gosip tentang benua yang hilang di wilayah Nusantara lewat sebuah
kisah fiksi.
Ternyata, jauh dari kesadaran saya, pada masa itu seorang saintis dari
Brazil juga tengah melakukan penelitian mendalam tentang benua yang
hilang itu. Sebuah riset yang dirintis selama bertahun-tahun lamanya.
Profesor Santos dengan reputasi akademis yang tidak perlu diragukan
lagi menyatakan “Atlantis: Benua yang Hilang itu Sudah Ditemukan”.
Kita pun tersentak, sebab penelitian bertahun-tahun itu bermuara pada
kesimpulan bahwa benua yang hilang itu tenggelam di wilayah nusantara
hingga hanya menyisakan puncak-puncak yang membentuk pulau-pulau dalam
sabuk gunung api. Beribu-ribu tahun yang silam, lokasi tempat dimana
daratan luas itu tenggelam disebut sebagai Ultima Thule, batas yang tidak
mungkin dilewati. Kawasan tidak dikenal yang namanya baru muncul kembali
pada awal-awal perhitungan Masehi.
Maka pada hari ini, kita menghadapi sebuah realitas sejarah—yang tentu
butuh pembuktian lebih lanjut dan bukan sekedar penyocokan ciri-ciri alam
dan peradaban Atlantis sebagaimana ditulis Plato—bahwa 11.600 tahun yang
silam sebuah peradaban besar tenggelam di wilayah Nusantara. Kita mendapati
realitas sejarah itu layaknya Ultima Thule, batas yang sangat sulit kita
lewati. Jangankan membuktikan kesahihan mitos Atlantis, sekedar merumuskan
periode sejarah modern Indonesia saja kita masih kesulitan. Dulu, para ahli
sejarah kita bersepakat bahwa sejarah Indonesia dimulai sekitar abad kelima
Masehi dengan ditemukannya prasasti-prasasti yang menandakan keberadaan
kerajaan Kutai di Kalimantan. Tetapi apakah sejarah sebuah bangsa hanya
ditentukan oleh prasasti-prasasti lokal. Bagaimana dengan bukti tertulis
yang berasal dari kabar dari luar yang menunjukkan interaksi bangsa-bangsa
lain dengan nenek moyang bangsa ini. Bukankah bukti-bukti itu jauh lebih
menunjukkan eksistensi peradaban kuno kita dibandingkan sekedar batu-batu
bergores tulisan?
Ada banyak kabar dari luar tentang peradaban kuno kita. Sejak masa permulaan
zaman, Nusantara sudah lama dikenal. Dalam sebuah buku Yunani berjudul
Periplous tes Erythras Thalasses dengan angka tahun 70 masehi terdapat nama
Chryse, istilah Yunani untuk pulau emas. Salah satu bandar di mana negeri
India bagian selatan berdagang. Kemungkinan besar yang dimaksud dengan
Chryse adalah Pulau Sumatera yang kita kenal saat ini. Dalam buku lainnya
karangan Ptolemaues, seorang ahli navigasi dari Iskandariyah Mesir disebutkan
nama negeri itu Chrysae Chersonesos, mengacu pada Semenanjung Barus, sebuah
daerah yang terletak pada bagian barat Sumatera Utara. Satu abad sebelum Masehi,
lewat percakapan antara raja Yunani-India, Menandros yang di India dikenal
dengan nama Milinda dengan seorang cendikiawan Budha bernama Nagasena tersebut
nama Suvannabhumi yang hampir pasti mengacu pada Sumatera. Peninggalan Budha
lainnya, Mahaniddesa yang ditulis sekitar akhir abad III Masehi menyebutkan
nama-nama Suvannabhumi, Wangka dan Jawa sebagai bagian dari daerah-daerah di
Asia. Suvannabhumi mengacu pada Sumatera, Wangka mengacu pada pulau Bangka
serta Jawa.
Itulah Ultima Thule yang tidak kunjung bisa kita lewati. Jangankan memetik
pelajaran dari peradaban masa silam sekedar merajut cerita dari jalinan benang
yang terbentang panjang saja kita belum sanggup. Begitu banyak puing-puing
tajam yang menghalangi kita untuk berlayar lepas mengarungi samudera sejarah
peradaban bangsa ini. Kita hanya bisa menunggu sembari termangu-mangu menyaksikan
penemuan bangsa lain di tanah yang kita diami ini. Kita berhenti mencari pada
saat orang lain baru memulainya. Kita lebih senang menjadi objek ketimbang
menjadi subjek yang meneliti. Dengan pemikiran yang banal itu kebangsaan kita
seolah-olah tampak hanya sebagai warisan kolonial Pax Nederlandica. Kenangan
kita tentang masa lalu lebih banyak muncul sebagai ratap kekalahan ketimbang
gagasan dan harapan. Itu sebabnya kita melangkah ke depan terseok-seok membawa
beban sejarah yang tidak pernah kita takar berat dan besarannya.
Misteri benua yang hilang hanyalah serpihan kecil dari misteri besar peradaban
Indonesia. Kita sengaja melupakannya karena kita merasa tidak akan sanggup
menuntaskannya. Kita pura-pura sibuk mengejar kejayaan di masa depan karena
sebenarnya kita tidak sanggup berhadapan dengan kenyataan di masa silam. Tanpa
memori kolektif yang kuat akan sejarah maka kita tetaplah manusia kera yang
berjalan tegak, Phiticantropus Erectus, yang pernah menghuni kepulauan ini
ratusan ribu tahun yang silam. Tanpa nalar terhadap masa silam maka kita tidak
akan mampu menakar masa depan. Sebuah peradaban tanpa perencanaan layaknya
kawanan hewan yang menunggu kepunahan. Kita mesti mulai bertanya-tanya, kenapa
begitu banyak persoalan yang tidak terpecahkan sementara alat-alat kemajuan
terus kita datangkan. Kenapa kita senantiasa terhambat melangkah ke depan
sementara kita telah menjual semua kekayaan bumi pertiwi ini hanya untuk
mendapatkan pengakuan. Kita mesti meraba-raba, bisakah kebajikan di masa
silam membantu kita merumuskan penyelesaian dari persoalan?
Seandainya cerita tentang Atlantis sebagaimana termaktub dalam dialog Timaeus
and Critias adalah sebuah fakta sejarah. Seandainya kelak memang terbukti secara
logis dan empiris, peradaban itu tenggelam di kawasan nusantara, kita tentu
bertanya; adakah arti dari serpihan-serpihan sejarah itu kepada kita yang hidup
11.600 tahun setelah tenggelamnya peradaban itu? Sebagaimana pertanyaan yang
biasa kita hadapi; adakah arti dari kenangan lama akan kejayaan Majapahit,
Sriwijaya atau Revolusi Kemerdekaan serta Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
kepada kita yang hidup pada masa sekarang? Menjawab pertanyaan seputar Atlantis,
dengan skeptis tentu kita akan menjawab; seandainya pun Atlantis tenggelam di
kawasan Nusantara, toh kita yang menghuninya Proto dan Deutero Melayu jelas bukan
keturunan langsung Atlantis melainkan keturuan dari bangsa-bangsa Hindia Belakang
yang datang sekitar 1.500-2.000 tahun Sebelum Masehi. Kita tidak memiliki pertalian
darah tetapi tanah yang kita diami ini memberi satu bukti yang tidak terbantahkan.
Bahwa sejak mitos Atlantis hingga era eksplorasi perusahaan multinasional, tanah
ini kaya akan mineral. Dulu, kekayaan alam ini yang perlahan menjadi sumber petaka
Atlantis karena sifat serakah yang menenggelamkan kebajikan. Sekarang ini bukankah
keserakahan segelintir orang pula yang menelan kebajikan-kebajikan hubungan sesama
manusia dan manusia dengan alamnya?
Ada batas yang mesti kita lewati, Ultima Thule sejarah peradaban Indonesia. Kita
melakukannya bukan sekedar untuk membangkitkan kebanggaan sempit yang bersumber
pada alasan yang tidak logis. Tetapi lebih jauh dari itu, agar kita mampu belajar
dari masa silam sembari mengembangkan nalar sehingga kita mampu memecahkan
persoalan-persoalan yang kita hadapi sekarang demi menyongsong masa depan yang
lebih baik. Sebab sepanjang dunia terus berputar, manusia akan terus menghadapi
masalah-masalah yang sama hanya saja dalam bentuk, dimensi dan ruang yang
berbeda-beda. Bila batas itu tidak kunjung mampu kita lewati, kita tidak akan
pernah belajar untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Desakan magma
ketidakpuasan tidak akan tertahankan, erupsi sosial akan meledak menjadi bencana
yang akan menenggelamkan bangsa ini dalam kehancuran. Semoga kita bisa belajar
dari masa silam.
Picture taken from http://www.flickr.com/photos/mhartford/2698469884/
