Oleh Devy Kurnia Alamsyah, SS*
Bagi sebagian penduduk Mojokerto, Jawa Timur, yang sudah terbiasa memanfaatkan areal sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu dengan membuat batu bata, tentu merasa sedikit dongkol dan resah setelah daerah itu menjadi gunjingan akhir-akhir ini. Hampir seluruh media massa memasalahkan kemelut yang tengah terjadi di sana, di Trowulan. Kecamatan ini, diam-diam, selama berabad-abad menyimpan di salah satu sudut perut buminya sebuah bentuk kejayaan nusantara di masa lampau. Gundukan demi gundukan yang sedang dipertaruhkan itu dulu pernah menjadi inspirasi bagi Mpu Prapanca untuk diabadikan kejayaannya di dalam kitab Negarakertagama 7 abad yang lalu. Di bawah sana menanti puing-puing kota Majapahit yang berteriak dari masa lalu seakan menohok nusantara di masa kini.
![]()
Pada awalnya di tahun 1815, Raffles memerintah Wardenaar untuk meneliti peninggalan arkeologi di Mojokerto, dan laporan penemuan beberapa peninggalan itu ternyata mengindikasikan sisa-sisa kerajaan Majapahit. Selang 111 tahun kemudian Maclains Pont akhirnya mampu memetakan kota Majapahit di situs Trowulan. Ia menggambarkan, seperti deskripsi kitab Negarakertagama dan Pararaton, benteng kota Majapahit telah memiliki jaringan jalan dan dikelilingi oleh tembok berbentuk blok-blok persegi. Kota ini berbentuk segiempat dengan gapura di setiap sisinya. Hingga sekarang, diperkirakan luas bidang kota Majapahit ini sekitar 11 x 9 jam yang memanjang utara selatan. Sudah banyak peneliti yang datang dan pergi dari daerah ini, sehingga dapat dipastikan bahwa 80 % situs Trowulan hari ini adalah memang ibu kota Kerajaan Majapahit di masa lalu.
Kenyataan ini kemudian meresahkan sekitar 20 dosen dan 80 mahasiswa (UI, UGM, Unhas, Unud) untuk menggabungkan diri dalam Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) I yang dimulai Juni 2008. Adapun penelitian mereka difokuskan untuk menetapkan batas-batas wilayah dari kerajaan tersebut yang terbagi dari empat sektor yaitu Kedaton, Umpak 18, Ubin Segienam, dan Pendopo Agung di Situs Trowulan. Penggalian yang bertema “Mengungkap Kedaton Kerajaan Majapahit” ini berhasil menemukan struktur-struktur bangunan yang saling silang yang dipercayai sebagai lantai pelataran dan dasar bangunan pada kedalaman antara 1 – 3 meter. Temuan lain berupa sumur, keramik, tembikar, terakota, dan logam mulia juga ditemukan sehingga semakin membuktikan hipotesa bahwa komplek Kedaton merupakan pusat Kerajaan Majapahit pada masa keemasan Raja Hayam Wuruk yang menurut para sejarawan menyamai keagungan kekaisaran Cina.
![]()
Satu nama yang tak bisa dipisahkan dengan kejayaan kerajaan Majapahit di masa lalu selain Raja Hayam Wuruk adalah Mahapatih Gajah Mada. Perdana menteri ambisius ini melejit namanya jauh melebihi Sang Raja setelah ia berjanji untuk tidak memakan buah palapa sebelum berhasil menyatukan nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sumpah ini kemudian terkenal dengan sebutan Sumpah Palapa. Bentuk perluasan wilayah ala Majapahit itu berabad kemudian menjadi momentum semangat nasionalisme bangsa ini dengan Gajah Mada sebagai salah satu ikonnya. Kemudian semua warisan budaya nusantara yang dianggap unggul, terutama Majapahit, digali dan dikembangkan guna memantapkan status budaya bangsa ini dan posisinya di mata dunia kelak. Kejayaan-kejayaan monumental masa lalu akhirnya menjadi eforia bangsa ini seiring dengan penemuan-penemuan para arkeolog di situs Trowulan. Muncul semacam kebanggaan untuk melihat kejayaan nusantara di masa lalu sebagai suatu hal yang ideal dan memang pantas untuk dilestarikan. Kebanggaan yang seharusnya sama seperti bagaimana bangsa Mongol memandang Genghis Khan sebagai tokoh terbesar mereka sepanjang masa. Lalu timbul keinginan pemerintah untuk mendirikan semacam monumen sebagai pengingat masyarakat dan bangsa pelupa ini akan kebesaran masa lalunya. Tanah yang biasanya dicangkul penduduk lokal untuk pembuatan batu bata sekarang sudah mulai dipasang pancang-pancang besar guna pembuatan gedung konservasi sejarah bernama Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jero Wacik November lalu. Sontak pro kontra muncul di masyarakat. Masyarakat umum mestinya menerima pembangunan ini sebagai bentuk itikad baik dari pemerintah dalam melestarikan cultural heritage bangsa ini. Sementara di sudut lain para arkeolog melihat masalah ini dari sisi berbeda. Bukan tujuannya yang salah melainkan dalam pelaksanaannya, terutama ketika proyek pembangungan gedung PIM itu justru dilakukan di atas areal situs itu sendiri.
Muncul kekhawatiran bahwa proyek pembangunan konservasi ini justru merusak keberadaan situs Trowulan. Kekhawatiran ini bukanlah tidak beralasan, bertahun-tahun penelitian yang telah dilakukan akan sia-sia tatkala setiap jengkal lahan yang menyimpan berjuta misteri dari masa lalu itu dihancurkan untuk pembuatan gedung yang niatnya justru ingin melestarikan situs itu sendiri. Hingga penghujung Desember 2008 saja sudah 50 pancang beton yang terpasang justru di areal penggalian para arkeolog. Para arkeolog menyesalkan tindakan vandalistis yang justru dilakukan oleh pemerintah ini karena telah memunculkan resiko rusak atau punahnya penemuan arkeologi terpenting abad ini. Oesrifoel Oesman, salah seorang Tim Evaluasi PIM, menuntut pemerintah untuk segera menghentikan pembangunan PIM guna menghindari perusakan yang lebih parah. Tim Evaluasi PIM kemudian memberikan ultimatum untuk segera merelokasi PIM dan merehabilitasi situs yang sudah terlanjur dirusak. Mereka juga akan memakai jalur hukum yaitu dengan menuntut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) karena telah melanggar UU no 5 tahun 1992 tentang Benda dan Cagar Budaya.
![]()
Kejadian ini hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini untuk sedikit menghargai peninggalan sejarah. Perhatikan bagaimana bangsa Eropa yang tak lama setelah keruntuhannya pasca Perang Dunia Dua mampu menjadikan bangunan-bangunan bersejarah abad pertengahannya menjadi bagian dari cultural and pilgrimage heritage tourism dan lihatlah bagaimana mereka berusaha untuk tidak menghilangkan keotentikan bangunan bersejarahnya hingga saat ini. Banyak sekali kekayaan budaya bangsa ini yang layak untuk lebih digali sebagai upaya membentuk kesadaran bangsa yang berbudaya sehingga mampu menjadi bagian tak terpisahkan dari world heritage. Cukup sudah budaya kita dicuri bangsa lain atas kebodohan kita sendiri yang tak mampu menjaga apalagi memelihara. Seperti halnya para kuli batu bata di Trowulan yang kesal tak bisa menghidupi keluarganya karena pekerjaan mereka diserobot seperangkat bulldozer. Bagi mereka mungkin urusan perut masih jauh lebih penting ketimbang melestarikan sisa-sisa kerajaan Majapahit. Eforia bangsa masa lampau ternyata lebih menimbulkan resiko bagi mereka jauh diluar bayangan para arkeolog.
* Alumni Sastra Inggris UNP