Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Pertama: “Masih Percayakah Kita dengan Parpol?”
Pembicara: Effendi Gazali, Fadjroel Rahman, Sebastian Salang
Paradigma yang sedang bermunculan dan berkembang pesat di masyarakat
hari ini dijadikan sebagai topik pertama di hari pertama (11/1) dari
Seminar “Indonesia Next, New Hope”; masih percayakah kita dengan
partai politik? Topik ini dianggap penting oleh National Press Club
of Indonesia, selaku penyelenggara, sebagai wujud keprihatinan atas
kehidupan berbangsa yang makin hari makin terasa kemundurannya.
Peranan partai politik yang dianggap mampu sebagai penyambung suara
rakyat kepada para pemimpinnya semakin tidak dirasakan signifikansinya.
Effendi Gazali, Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI,
sebagai pembuka pada sesi pertama memberikan sebuah Matrix kepada
peserta seminar untuk menjawab topik yang diberikan. Ia seakan mencoba
bermain secara kuantitatif untuk mengambil suatu konklusi terhadap
penilaian publik terhadap kepercayaan mereka akan peran partai.
Ia memasukkan elemen-elemen seperti tingkat political efficacy publik,
tingkat kinerja KPU, Panwaslu, hingga tingkat kepuasan publik itu
sendiri di bidang ekonomi, hukum, keamanan, sosial budaya dan hal-hal
terkait lainnya. Komponen-komponen ini kemudian dihitung melalui
strategi tertentu hingga didapatkan suatu nilai yang akan menjawab
seberapa percayakah kita kepada parpol.
“Inti dari pembuatan Matrix ini adalah fakta empirik yang didapat
dari tingkat political efficacy publik itu sendiri. Bahkan hasilnya
bisa mencengangkan jika hasilnya mencapai angka 0, 0000…. Gambaran
ini bisa menunjukkan adanya kesalahan pada bagian-bagian pembagi
pada Matrix yang dapat dijadikan acuan dari keseluruhan paradigma
politik publik itu sendiri. Sudah saatnya kita perbaharui poin-poin
ini untuk menjawab pertanyaan di atas,” demikian Effendi mengakhiri.
Fadjroel Rahman, pembicara kedua, menggagas “Tugas Pertama Partai:
Indonesia Bebas Korupsi” sebagai judul presentasinya.
“Sistem perpolitikan di Indonesia itu sendiri cenderung menjadikan
pemilu itu sebagai ATM; menjadikan kompetisi perpolitikan sebagai
lahan mencari uang,” tegas Fadjroel.
Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) ini memberi
penekanan akan pentingnya membersihkan unsur-unsur korup dalam partai
politik. Fadjroel berharap dengan munculnya calon-calon independen
dapat menciptakan kualitas kompetisi yang mampu menciptakan kualitas
kedewasaan perpolitikan itu sendiri. “Indonesia bebas korupsi semoga
juga menjadi harapan banyak orang di negara ini yang menginginkan
perubahan menuju Indonesia baru” demikian bakal calon presiden di
pemilihan umum lalu dari jalur non-partai ini berharap.
Sebastian Salang selaku Koordinator FORMAPPI menyajikan makalahnya
yang berjudul “Menggugat Partai Politik” sebagi penyaji terakhir
di sesi pertama. Bagi Sebastian, parpol sangat diperlukan oleh semua
negara demokrasi. Dengan adanya parpol yang kuat dan mapan dianggap
mampu untuk menyalurkan berbagai tuntutan warganya dalam pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakatnya. Kekecawaaan yang timbul pada parpol
malah mencipta semangat untuk membentuk parpol baru sebagai bentuk
koreksi dari parpol sebelumnya.
“Secara umum, partai politik memiliki empat fungsi utama; agrerasi dan
artikulasi kepentinga, pendidikan politik, kaderisasi dan rekrutmen.
Setiap fungsi memiliki keterkaitannya dan mempengaruhi dinamika
demokrasi suatu negara,” kata Sebastian. Sebastian optimis akan
peran parpol jika parpol itu sendiri mampu mengkoreksi dirinya sendiri.
Parpol yang anti kritik menjadikan kemajuan politik menjadi semakin mundur.
Sebastian menekankan, “kita semua semestinya menaruh harapan pada parpol
supaya parpol membenahi karena ke depan parpol akan memainkan peranan
penting sebagai penghubung antara pemerintah negara (the state)
dengan warga negaranya (the citizens).”
Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang kebetulan hadir dalam seminar,
turut menyampaikan tanggapannya. “Perubahan itu penting. Kalau bangsa
ingin maju, perubahan itu harus terjadi. Pada konteks itu saya
mau perubahan itu terjadi.”
Kita bukan tak butuh parpol tapi justru inilah bentuk kepedulian itu
sendiri bagaimana menjadikan parpol menjadi lebih kompentitif seperti
misalnya memasukkan calon independen itu sendiri. “Yes, we do have a
new hope,” Rosiana Silalahi selaku moderator,
mengakhiri sesi pertama.