Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Ketiga: Sriwijaya 700 Tahun, Majapahit 300 Tahun, Indonesia???
Pembicara: Bambang Harymurti, Ikrar Nusa Bhakti, Jaleswari Pramodhawardani, Oheo Sinapoy
Perdebatan soal masa depan Indonesia menonjol dalam sesi ketiga seminar
“Indonesia Next, New Hope” yang digelar National Press Club of Indonesia,
Senin (11/1). Bambang Harymurti menyebut Indonesia seyogianya mengambil
pelajaran dari perjalanan dua kerajaan masyhur di Nusantara, yakni Sriwijaya
dan Majapahit pada abad ke-7 dan ke-13 silam. Di masa itu, rute pelayaran
Nusantara menangguk untung dari lalu lintas perniagaan dari dan menuju Cina-India.
Sriwijaya merupakan kerajaan yang memanfaatkan potensi maritim di wilayahnya.
Konon sungai Musi di Palembang disebut-sebut sebagai lokasi transit kapal-kapal
niaga dari dan menuju Cina-India. Demikian pula di masa Majapahit. Sekitar abad
ke-13, jalur laut Nusantara—khususnya Pantai Utara Jawa—menjadi rute pelayaran
kapal-kapal dari Eropa yang hendak menuju Maluku. “Di abad ke-17, seiring jatuhnya
Konstantinopel, pedagang-pedagang Eropa mencari jalur langsung ke pusat rempah,
yakni Maluku. Saat itulah VOC menjadi maskapai dagang terkaya di dunia. Oleh karena
itu dalam konteks kekinian, sudah saatnya bangsa ini merubah green strategy menjadi
blue strategy; strategi maritim,” ujar Bambang Harymurti.
Usulan agar bangsa ini menengok sektor maritim juga datang dari Jaleswari Pramodhawardani.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara samudra Hindia dan Pasifik, selain
itu Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia. Dengan potensi itu,
“political will saja tidak cukup. Pemerintah harus memiliki konsep yang jelas bagaimana
mewujudkan negara maritim,” jelas Jaleswari. Misalnya menyiapkan landasan yang kuat untuk
industri perikanan.
Pembicara lain, Ikrar Nusa Bhakti menyorot sisi lain dari Sriwijaya dan Majapahit. Dua
kerajaan ini adalah contoh keberhasilan menyatukan nusantara. Sriwijaya melakukannya
dengan perdagangan dan Majapahit melalui penaklukkan atau pengakuan atas kekuasaannya.
“Mahapatih Gajah Mada menelurkan Sumpah Palapa, tak akan memakan buah palapa sampai
nusantara raya terbentuk. Dari sisi pemahaman modern, sumpah ini adalah cara menyatukan
nusantara dengan cara militer dan penaklukkan,” kata Ikrar. Sejarah ini berbeda dengan
Indonesia yang kini berusia 65 tahun. “Keberadaan Indonesia dicetuskan oleh sebuah
kesepakatan bernama Sumpah Pemuda 1928,” imbuhnya. Spirit inilah yang harus selalu digali
untuk memacu Indonesia menuju cita-cita nasionalnya.
Di bagian akhir, politisi Golkar Oheo Sinapoy berpendapat untuk mengisi Indonesia, bangsa
ini perlu memberikan tempat pada kelompok muda untuk memimpin. “Di tangan kelompok muda
inilah nasionalisme baru dijahit. Korsel pun kini menyiapkan kaum muda, yakni mereka yang
berumur 40 tahunan untuk menahkodai negeri tersebut.” Selain itu, ujar Oheo Sinapoy,
“bangsa ini memerlukan kelompok menengah untuk menggerakkan demokrasi. Sayangnya,
prasyarat ini belum ada, dan kalaupun ada,” tambah Oheo, “tidak memadai.”