Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Keempat: Pemimpin Baru, Harapan Baru
Pembicara: Arief Suditomo, Budiman Sudjatmiko dan Halida Hatta
Jika dalam sesi-sesi sebelumnya sudah dibahas bagaimana pentungnya parpol,
ormas dan sejarah maka di hari kedua (12/1) yang dibicarakan dalam Seminar
“Indonesia Next, New Hope” adalah pentingnya pemimpin baru. Benarkah ada krisis
kepemimpinan sekarang ini? Bagaimana kriteria pemimpin yang baik itu sebenarnya?
Budiman Sudjatmiko, Halida Hatta dan Arief Suditomo didaulat sebagai pembicara
untuk menjawab dan menyampaikan pandangan mereka terhadap kepemimpinan itu dan
peran anak muda di dalamnya.
Budiman Sudjatmiko, sebagai pembicara pertama, menekankan bahwa realita
Indonesia hari ini adalah proyeksi dari masa lalu. Untuk itu jika kita mau
memproyeksikan Indonesia masa depan mesti dimulai hari ini. Tugas pemimpin,
bagi Budiman, adalah menawarkan realita baru dari pijakan kekinian. “Pemimpin
yang Indonesia butuhkan adalah pemimpin yang bisa memadukan nilai-nilai, kinerja
dan pencitraan dengan bagus. Pemimpin yang bisa menjadi avatar; pemimpin yang
mampu menjadi penubuhan akan nilai-nilai kemerdekaan itu sendiri,” terang Budiman.
“Sudah saatnya ada pemimpin yang memiliki core-value. Pemimpin yang bukan
memakai politik bawang Bombay karena tak berani berbeda platform. Pemimpin mesti
berani untuk menentukan distingsi politiknya. Diferensiasi diri dalam artian berani
untuk berbeda secara manajerial, strategi dan visi. Karena sesungguhnya yang terjadi di
negeri ini bukanlah krisis pemimpin melainkan krisis di sirkulasi kepemimpinan itu
sendiri. Ini yang mesti dibenahi,” Budiman menambahkan.
Kegamangan dan kekurang percaya dirian bangsa ini pasca orba menjadi perhatian
Halida Hatta sebagai pembicara kedua. Halida menganjurkan untuk kembali kepada substansi
bangsa ini yaitu Pancasila sebagai jalan yang lurus. Halida, mencoba menelaah pandangan
Bung Hatta, percaya bahwa kita sudah tak perlu lagi mencari-cari bentuk, mengadaptasi
konsepsi san gaya demokrasi liberal, karena Pancasila pada hakekatnya sudah merupakan
cara hidup bangsa Indonesia itu sendiri. “Kepemimpinan mesti didasarkan kepada Pancasila.
Antara ide dan praktek, Pancasila dapat dijadikan sebagai common denominator-nya; satu
platform bersama. Pancasila adalah rangkuman keseluruhan, termasuk potensi dan sikap bangsa
kita, yang mampu merekatkan potensi kita bersama,” terangnya.
“Bangsa Indonesia mesti menjadi master in their own land, not host, maka tugas
pemimpin ke depan yang baik bila mereka bisa menempatkan diri antara tahta dan mandat
untuk rakyat. Legacy-nya akan panjang melebihi umurnya jika ia bisa menempatkan dirinya
di sana,” demikian Halida mengutip kata-kata Bung Hatta di akhir penyajiannya.
Arief Suditomo sebagai penyaji terakhir menegaskan bahwa setiap generasi
memiliki misi mereka sendiri-sendiri. Generasi hari ini memiliki tugas dan tantangan
yang berbeda dengan Generasi 1928, 1945 dan 1966 tentunya. “Generasi hari ini berada
pada zaman dimana bangsa kita telah menjadi sebuah desa besar tak berbatas yang bernama
globalisasi. Globalisasi telah benar-benar menerpa kita; pasar bebas, liberalisme,
pragmatisme, hedonisme, konsumerisme dll adalah bawaan dari globalisasi. Peran pemimpin
dan pemuda menjadi disfungsional dan disorientasi oleh karenanya,” tutur Arief.
“Konsolidasi di setiap field masing-masing mesti dilakukan. Dalam media misalnya,
jika dulu adalah kekebasan pers maka kini adalah market. Pemenuhan selera pasar kini adalah
kini yang dihadapi. Kita tak bisa menjadikan pasar sebagai musuh. Yang bisa kita lakukan
adalah kompromi secara cerdas. Media akhirnya diharapkan tidak saja sebagai institusi yang
menghibur dan mendidik saja, melainkan sekaligus menjadi amplifier dari kemajuan itu
sendiri,” demikian paparan Arief.
Sukardi Rinakit dan Andrinof Chaniago yang kebetulan hadir turut memberikan asumsinya
mengenai kepemimpinan. Sukardi melihat bahwa politik pencitraan akan tetap menjadi pilihan
di masa pemilu mendatang dan itu adalah mutlak baginya. Hal ini dikarenakan faktor pemilihnya
yang belum cerdas. Diharapkan ke depan politik pencitraan itu akan muncul dengan sendirinya
ketika value dan kinerja itu sudah berjalan semestinya. Sementara Andrinof melihat bahwa tugas
pemimpin adalah membawa kita sampai kepada tujuan sesuai dengan mandat UUD 45.
“Cara mencapai tujuan itu secara operasional itu yang belum karena yang terjadi selama ini
kemampuan mencapai kekuasaan secara operasional saja bukan pada tujuan bernegara. Agenda
berikut adalah menuntaskan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu,” harap Andrinof.
Sesi keempat kemudian dilanjutkan dengan sesi terakhir “Masihkah Kita Punya Budaya Malu?”
dengan pembicara Hamid Basyaib, Ismed Hasan Putro, Maruarar Sirait dan Febry Diansyah.
Seminar “Indonesia Next, New Hope” nanti akan ditutup dengan “Rekomendasi untuk Indonesia.”