Bali, 30 November 2011
Seiring dengan perubahan kondisi sosial politik di era reformasi, muncul gejala memudarnya nilai-nilai Pancasila sebagai asas kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila yang sejak awal didirikan oleh para Bapak Bangsa sebagai asas kehidupan negeri ini dan ‘tali pengikat’ persatuan Indonesia mulai kehilangan makna dan jatidirinya. Pancasila hanya sekedar menjadi sebuah simbol dan formalitas belaka. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, kini tidak lebih sebagai sebuah hapalan semata, atau ironisnya justru kita tidak tahu apa makna Pancasila itu sendiri, apatah lagi menjalankannya.
Justru yang muncul adalah kehidupan kebangsaan dan politik kenegaraan yang menihilkan nilai-nilai Pancasila, politik kekuasaan menjadi panglima dan kedudukan menjadi tujuan utama. Dampaknya, kehidupan politik terlihat sangat oportunistik dan hanya berpihak kepada elit kekuasaan, kepentingan rakyat-pun di tinggalkan atau bahkan di tanggalkan sama sekali. Sejalan dengan hal itu, ditingkat grassroot terjadi gesekan dan benturan antar kelompok masyarakat, arogansi kelompok menguat, rasa kebersamaan mulai memudar dan masyarakat tidak lagi peduli dengan kondisi negeri ini. Situasi ini sangat rentan karena bisa menimbulkan goncangan kehidupan politik kenegaraan dan apatisme kebangsaan masyarakat, bila di biarkan hal ini bukan tidak mungkin akan membawa dampak buruk bagi negeri ini.
Tidak ada jalan lain untuk mengembalikan negeri ini ke situasi yang lebih baik, kecuali dengan kembali memperkokoh kehidupan kebangsaan melalui “Revitalisasi Pancasila” dengan implementasi nilai-nilai luhurnya di seluruh lini kehidupan, baik di bidang sosial, politik, ekonomi ataupun kehidupan bermasyarakat. Persoalannya kemudian adalah bagaimana mewujudkan hal tersebut, dan bagaimanapula bentuk revitalisasi yang diharapkan agar Pancasila kembali menjadi dasar kehidupan kita bersama.
Karena tu FKPPI Bali akan melakukan urun rembug masalah tersebut dalam sebuah rangkaian Seminar Nasional yang akan di selenggarakan pada hari Sabtu-Minggu 03-04 Desember 2011 di Inna Beach Sanur Hotel, Denpasar Bali. Seminar akan mengundang sejumlah tokoh, baik dari kalangan Militer, Politisi, Akademisi dan Agamawan serta dari FKPPI Sendiri. Para tokoh ni berskala nasional dan didampingi oleh para pakar dari Bali, diantara merekea adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, Anggota DPR-RI yang juga Politisi Senior PDI-P, Ganjar Pranowo dan Pengamat Sosial Politik Yudhie Latief.
Seminar akan di hadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari berbagai elemen kemasyarakatan, mulai dari tokoh-tokoh pemeritahan daerah, termasuk pimpinan dan anggota DPRD Bali, tokoh militer, diantaranya Pangdam Udayana, organisasi sosial kemasyarakatan, organisasi politik, Lembaga Swadaya Masyarakat dan kalangan akademisi di lingkungan perguruan tinggi di Bali serta siswa-siswa sekolah di Bali.
Melalui rangkaian seminar ini Generasi Muda FKPPI Bali berharap akan muncul kembali kehendak untuk mengembalikan Pancasila sebagai asas kehidupan kebangsaan dan politik kenegaraan sesuai nilai-nilai yang dikandungnya, sekaligus menjadikan Pancasila kembali sebagai alat ‘pemersatu’ Bangsa. Secara singkat Generasi Muda FKPPI Bali berharap seminar ini akan menjadi bola salju bagi fungsionalisasi penerapan nilai-nilai Pancasila, tidak hanya dalam kehidupan politik kenegaraan, tetapi juga dalam kehidupa kebangsaan dan bermasyarakat
Seminar ini merupakan salah satu sumbangsih kami dari Generasi Muda FKPPI Bali untuk secara bersama-sama dengan elemen masyarakat lainnya kembali menjadikan Pancasila sebagai asas kehidupan kita, sehingga terwujud cita-cita luhur pendiri bangsa ini dan kita semua untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri yang aman, makmur dan sejahtera.