Jum’at, 17 Juli 2009
Kekalahan telak yang dialami oleh partai Golkar dalam dua kali putaran Pemilu 2009, baik itu Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden, telah menyebabkan keterkejutan yang luar biasa. Tidak hanya itu, kekalahan itu akhirnya memicu konflik internal di tubuh Golkar terutama keterkaitan siapa calon Ketua Umum Golkar selanjutnya. Hal ini terungkap dalam diskusi yang diselanggarakan oleh National Press Club of Indonesia yang mengangkat tema “Masa Depan Golkar Pasca Pilpres 2009”pada hari Jum’at tanggal 17 Juli 2009 dengan narasumber; Ade Komaruddin (fungsionaris partai Golkar), Burhanuddin Muhtadi (Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia) dan Siti Zuhro (Peneliti Senior LIPI) untuk mengupas berbagai spekulasi terkait masalah ini.
“Golkar sedang mengalami periode yang cukup memprihatinkan. Setelah kekalahan dalam Pemilihan Legislatif kemaren malah semakin diperparah dengan kekalahan di ajang Pilpres beberapa waktu lalu. Golkar benar-benar kandas dalam pemilihan kali ini,” aku Ade Komaruddin.
Siti Zuhro menegaskan bahwa sudah saatnya partai Golkar melakukan sesuatu, ia mengibaratkan partai Golkar sebagai perahu yang tengah berada di lautan penuh badai. Golkar mesti berbuat sesuatu untuk mencegah mereka karam dalam dunia politik tanah air. “Golkar memiliki kelebihan dalam jumlah kader bermutu yang seharusnya menjadi titik tolak terpenting dalam menciptakan kemajuan di tubuh Golkar. Tidak hanya lebih cepat lebih baik melainkan juga memperhatikan prospek ke depan itu seperti apa untuk dapat mengembalikan kejayaan Golkar,” demikian tegasnya.
Sementara Burhanuddin Muhtadi menganjurkan Golkar untuk melakukan introspeksi atas kegagalan dalam Pemilu 2009 ini. Ia membedakan partai Golkar dengan PDIP yang baginya sangat oligarkis. Golkar, seperti kata Jusuf Kalla, ibarat perusahaan di mana semua merasa memiliki saham atasnya. “Ini merupakan keuntungan sekaligus kerugian tersendiri bagi Golkar; setiap kebijakan akan menentukan ujung perjalanan partai ini” terang Burhanuddin.
Ade Komaruddin tak menampik memang diperlukan evaluasi dan konsolidasi total dalam segala hal di tubuh Golkar. Dalam pencanangannya, Golkar akan kembali mencoba mengaktifkan teknik lama yaitu kultur stelsel di mana setiap desa akan diwakili oleh beberapa kader Golkar. Melalui usaha ini diharapkan dapat membangkitkan kembali militansi kader partai Golkar yang terbuka pada semua pihak.
Siti Zuhro kembali menghimbau partai Golkar untuk memperhatikan kebijakan mereka terutama dalam regenerasi dan kaderisasi di tubuh Golkar. Manajerial partai harus menjadi perhatian, ia menambahkan. Perilaku pemilih juga mesti menjadi prioritas, ia menekankan pembangunan gender yang mesti ditingkatkan mengingat jumlah pemilih dominan partai ini adalah perempuan. “Dengan perubahan ini kelak, diharapkan partai ini akan menjadi obor; sebagai partai yang mampu menjadi teladan bagi partai lain. Sebuah partai yang kelak mampu menjadi tolak ukur akan perubahan dinamis dan simultan,” demikian harapnya.
Ade Komaruddin meyakini bahwa ada kebutuhan besar akan konsolidasi di tubuh Golkar yang mesti dilakukan segera. Permanent campaign selama 5 tahun seperti yang dilakukan oleh Partai Demokrat mungkin juga akan ditempuh oleh partai Golkar. “Munas Golkar akan dipercepat Agustus ini,” tegasnya. Pilihan untuk menjadi koalisi atau oposisi tentu akan menentukan perjalanan partai ini ke depan. Tak hanya itu calon ketua umum juga akan dibahas ketika Munas nanti. Saat ini, sudah ada tiga kandidat calon Ketua Umum Golkar; Yudi Chrisnandi, Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Apapun nanti hasil dari Munas Golkar, masyarakat menunggu realisasinya akan seperti apa nanti.