Archive for the ‘Focus’ Category

Ini Mimbar Kita: Efektifitas Komunikasi Presiden

Posted 27 Oct 2010 — by budiputra
Category Corner, Focus

Narasumber: Heru Lelono (Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi) dan Kristanto Hartadi (Pemimpin Redaksi Sinar Harapan)

JakTv 26 Agustus 2010

Elprisdat :

Setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif, maka wartawan adalah pilar ke empat dalam penyelenggaraan sebuah negara. Sekarang kita akan berbicara dalam perspektif pilar ke empat mengenai efektivitas komunikasi presiden. Sudah ada Kristanto Hartadi, pemimpin redaksi surat kabar Sinar Harapan dan Heru Lelono, staf khusus presiden SBY bidang komunikasi.

Belakangan ini agak ramai ini dibicarakan tentang komunikasi presiden, misalnya ketika presiden mengatakan menteri harus pro aktif berbicara kepada media, dan menjawab apa yang menjadi kontroversi. Sebelumnya juga ada penilaian publik kepada presiden, atas penyampaian Pidato 16 Agustus, dan banyak lagi. Pertanyaannya adalah, apakah cara yang dilakukan presiden itu efektif dan bagaimana mengukurnya? Saya akan tanya ke orang media dulu, Mas Kris, bagaimana melihat komunikasi presiden? Read More

Weekly Highlights: “Democracy” in Burma Exemplified by USDP’s Manipulative Electioneering

Posted 24 May 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus

Dear Friends and Supporters,

As Burma moves closer to still unannounced election date,
the Union Solidarity and Development Party (USDP) is moving
ahead in full force with its electioneering efforts across
the country. Reports of election canvassing and vote buying
arose well in advance of party registration, but USDP’s
registration approval has allowed for even more extensive
electioneering throughout ethnic areas. Read More

Ultima Thule

Posted 12 May 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus

(Seandainya) Batas Itu Tidak Pernah Terlewati
Oleh : E.S. ITO

Hampir dua setengah milenium yang silam Plato menulis Timaeus
and Critias
. Dibandingkan karya Plato yang lainnya seperti,
Republic atau Akademi Athena, Timaeus and Critias tidak bisa
dikatakan sebagai karya yang istimewa.  Kalau bukan karena
nukilan dialog di dalam kitab itu, Timaeus and Critias akan
terkubur di bawah tumpukan karya Plato lainnya. Nukilan dialog
yang bersumber dari cerita Solon yang mendapatkan kisah dari
para pendeta di Kota Sais, Mesir kuno itulah yang hingga hari
ini menjadi salah satu misteri terbesar di dunia. Sebuah kisah
tentang dunia pada masa manusia modern belum mencatatnya
sebagai periode sejarah, kisah tentang benua yang hilang,
Atlantis. Sejak ratusan tahun silam, orang-orang yang terobsesi
dengan kisah Plato itu hidup dalam “dunia konon”, berteori
tentang benua yang hilang itu tetapi hingga sekarang belum
pernah ditemukan bukti empirik tentang keberadaan benua yang
hilang itu. Sampai dengan saat ini, kisah Atlantis hanya
menguntungkan penulis fiksi, pembuat film dan pembual-pembual
gila di atas panggung.

Ultima Thule by ES ITO Read More

“Indonesia Asal Peradaban Dunia”

Posted 08 May 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Press Release Diskusi Panel Yayasan Suluh Nuswantara Bakti
“Indonesia Asal Peradaban Dunia”
Sabtu, 27 Maret 2010, 09.30-13.00 WIB
Libra Room Executive Club Hotel Sultan

Terbitnya sebuah buku berjudul ATLANTIS-The Lost Continent Finally Found
(The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization) yang ditulis
oleh seorang geolog dan fisikawan nuklir Brazil, Prof. Arysio Santos,
telah memancing sejumlah wacana terkait di mana sebenarnya lokasi Atlantis
itu sebenarnya. Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), seolah tak ingin
ketinggalan, mengadakan sebuah diskusi panel bertajuk “Indonesia Asal
Peradaban Dunia” pada hari Sabtu tanggal 27 Maret 2010 bertempat di
Libra Room Executive Club Hotel Sultan Jakarta. Sejumlah pembicara dari
berbagai disiplin keilmuan kemudian berbagi pendapat mereka, pro dan kontra,
terhadap hasil penelitian selama 30 tahun Prof. Santos yang mengatakan bahwa
Atlantis itu berada di Indonesia.

Dalam sambutannya sekaligus membuka diskusi panel, Pontjo Sutowo selaku Ketua
Pembina YSNB mengatakan pentingnya suatu strategi perubahan pola pikir (mindset)
dalam membangkitkan semangat kebangsaan yang ia anggap telah semakin tereduksi
akhir-akhir ini. Identitas sebuah bangsa menjadi suatu yang penting di dalam
era globalisasi seperti sekarang ini yang telah meniadakan batas-batas negara.
Ia berharap melalui diskusi panel ini dapat timbul semacam keinginan kolektif
untuk menggali kembali mimpi-mimpi besar dari masa lalu itu dan kemudian mampu
memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan itu ke kancah internasional.
Diskusi panel kemudian terbagi menjadi dua sesi di mana setiap sesi diisi
oleh tiga orang pembicara.

Sesi pertama dimulai oleh Ir. Oki Oktariadi. Sebagai seorang pemerhati geologi
lingkungan sepertinya Oki berusaha untuk membuktikan teori Santos melalui sebuah
paparan menarik dalam presentasinya terkait dengan mitos, pengetahuan dan ilmu
tentang Atlantis. Sejumlah bukti-bukti geologis ia paparkan untuk mendukung hasil
penelitian Prof. Santos yang bahkan tak pernah menjejakkan kakinya ke Indonesia
itu. Selain lokasi utama Atlantis yang disebut Prof. Santos ada pada paparan
Sunda Land, Oki memberi beberapa titik lain yang menurutnya bisa untuk diteliti
lebih lanjut. Pulau Bali, bagi Oki, termasuk daerah yang layak untuk diteliti
karena sejak dulu daerah ini sering disebut sebagai Pulau Dewata; sama seperti
yang digagas Prof. Santos di dalam bukunya.

”Melalui buku Santos ini terbuka semacam peluang bagi Indonesia untuk mengajukan
wisata ilmiah berdasarkan kontroversi betul atau tidaknya Atlantis itu berada
di Indonesia. Wisata ilmiah ini dapat dijadikan satu bentuk apresiasi kita
terhadap penelitian itu sekaligus dapat ditujukan untuk memunculkan semacam
curiousity kepada generasi penerus bangsa. Jika memang di kemudian hari teori
ini dapat dibuktikan secara ilmiah keberadaannya maka ini adalah penemuan ilmiah
terbesar sepanjang masa,” ujar Oki mengakhiri paparannya.

E.S. Ito, seorang novelis yang sudah menerbitkan dua karya best seller; Negara
Kelima dan Rahasia Meede, menjadi pembicara selanjutnya. Ia menceritakan proses
kreatifnya dalam mencipta novel pertamanya, Negara Kelima, yang juga menceritakan
tentang Atlantis. E.S. Ito dan Prof. Santos sama-sama memakai Timaeus dan Critias
karangan Plato yang menjadi satu-satunya referensi tertulis tentang benua Atlantis
yang hilang.

“Sejarah itu seperti tulang yang berserakan dan hari ini kita masih berusaha
untuk merangkainya berdasar susunan yang sistematis. Atlantis memang benar
memberi inspirasi yang luat biasa namun keberadaannya malah semakin membebani
sejarah kita yang tak pernah selesai. Kita selalu mengadopsi pemikiran-pemikiran
yang berasal dari bangsa lain namun kita gagal dalam menangkap pesan-pesan dari
anak bangsa sendiri. Jauh sebelum Montesquieu menggagas trias politika orang
Minang sudah mengenal konsep tigo tali sapilin sebagai basis pemerintahan mereka.
Dalam hal itulah sejarah menjadi proses pembelajaran dalam pendewasaan kita sebagai
sebuah bangsa yaitu dengan menggali kembali kearifan lokal yang kita miliki,” ungkap
E.S. Ito supaya kemegahan Atlantis yang disebutkan Prof. Santos tak melenakan kita
terhadap kejayaan masa lalu.

Radhar Panca Dahana, sebagai pembicara terakhir di sesi pertama, menyayangkan
bagaimana  sejarah kita sendiri ternyata lebih banyak ditentukan oleh data, bacaan,
analisis dan penafsiran ahli-ahli di luar kita terutama terkait pola pikir kita
dalam memandang konsep peradaban. Hal ini, bagi Radhar, ternyata pengaruhnya tidak
kecil dan ini terlihat pada bagaimana cara kita menentukan sistem dan cara kita
berpolitik, berekonomi atau berhukum.

“Dunia ini sesungguhnya dibentuk oleh dua jenis besar peradaban; kontinental dan
maritim. Sejak dahulu hingga hari ini, sesungguhnya telah terjadi pertarungan
luar biasa antara dua kelompok ini. Aneksasi itu tercatat dalam sejarah dunia
pada sistem kolonialisasi dan imperialisasi yang dibawa Eropa yang padahal
seharusnya adalah jati diri bangsa kita yang peradabannya adalah maritim. Ada
hal-hal yang besar di diri kita yang selalu ditutup-tutupi oleh kekuatan besar
dari luar, terutama kaum orientalis Eropa. Sesuatu yg tertutupi itu di-repressed
dan ditumbuhkembangkan oleh para kolonialis. Oleh karena itu kita mesti mencari
jati diri kita sendiri itu yaitu dengan menumbuhkan satu manusia android, hibrida,
dalam menilik kembali apa yang sudah bangsa kita miliki di masa lalu dan membentuk
avatar baru Indonesia,” harap Radhar.

Untuk sesi kedua kemudian dibuka oleh Dr. Agus Aris Munandar, seorang pakar arkeologi
dari FIB UI, terkait dengan peninggalan-peninggalan arkeologis prasejarah tertua di
Nusantara. Berdasar penelitiannya terdapat beberapa contoh dataran tinggi di Indonesia
yang memiliki peninggalan prasejarah yang terkait dengan ritual keagamaan antara lain
adalah: (a) Bada, di wilayah Sulawesi Tengah, situs tersebut memiliki arca-arca batu
monolitik berukuran besar, selain benda-benda batu lainnya seperti menhir dan kalamba,
(b) dataran tinggi Parahyangan di Jawa Barat juga mempunyai banyak peninggalan kuno
misal bangunan punden-punden berundak, (c) Dieng, merupakan dataran tinggi yang
mempunyai peninggalan bangunan candi-candi Hindu dengan arsitektur tergolong tua di
Jawa, dan (d) dataran tinggi Basemah (Pasemah) di Sumatera Selatan yang juga dipenuhi
oleh berbagai peninggalan kuno yang sangat mungkin berhubungan dengan kegiatan keagamaan.
Selain itu, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan yang masih belum dapat dipahami yang
dikarenakan kurangnya data-data terkait terutama mengenai peninggalan-peninggalan
peradaban Atlantis.

Agus berharap melalui diskusi-diskusi semacam ini sesungguhnya dapat memancing minat
akademisi dalam mempelajari kembali artefak-artefak prasejarah yang tersebar di segala
penjuru Nusantara dengan lebih serius dan kemudian berusaha untuk mencari data-data
tertulis dari mitos-mitos atau folklore terkait dengan kehancuran Atlantis itu sendiri.
Ia berharap pemerintah untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mewacanakan tentang Atlantis
itu Indonesia supaya terjalin kesinambungan dan tak terpecah-pecah.

Agung Bimo Sutejo, peneliti dari Yayasan Turangga Seta, mencoba melihat peninggalan-
peninggalan arkeologis dari sisi yang berbeda dengan Dr. Agus selaku pembicara sebelumnya.
Ia menemukan beberapa kejanggalan-kejanggalan di beberapa candi seperti Candi Cetho dan
Candi Panataran. Jika sejarah dunia selama ini meyakini bahwa bangsa Sumeria sebagai
bangsa pertama yang memperkenalkan konsep-konsep peradaban berusaha dibantah oleh Agung
dengan memberikan bukti-bukti seperti yang terdapat di relief-relief candi tersebut.
Tidak hanya di situ, Agung kemudian memperlihatkan bagaimana kesamaan-kesamaan dua candi
tersebut dengan beberapa situs penting yang tersebar di belahan dunia lainnya.
Ia berasumsi bahwa sesungguhnya teknologi yang kita miliki di masa lalu sudah sedemikian
canggihnya sehingga bisa menciptakan kesamaan-kesamaan arkeologis di seluruh dunia.
Ini membuktikan teori Prof. Santos bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia.

“Sejarah negara kita sesungguhnya sangat besar dan panjang. Namun jangan hanya nilai
sejarahnya saja yang dicari tapi kekuatan dan teknologi apa yang diterapkan oleh nenek
moyang kita harus kita aplikasikan kembali dan tidak dalam anggapan klenik. Diharapkan
melalui diskusi ini, segera diadakan komunikasi dengan peneliti/asisten Prof. Santos
untuk menindaklanjuti hasil dari diskusi hari ini,” pinta Agung.

Jaleswari Pramodhawardani, peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, adalah
pembicara terakhir. Jaleswari berpikir bilamana teori Prof. Santos ini benar maka akan
dahsyat efek yang akan ditimbulkan kepada Indonesia. Walaupun sesungguhnya sudah ribuan
penelitian telah dilakukan di seluruh dunia tentang Atlantis, termasuk dimana lokasi
persis atlantis itu, tapi apa yang dilakukan Santos layak pula untuk diapresiasi karena
menurutnya hasil penelitian itu cukup mengusik keindonesiaan kita hari ini.

“Apa yang sudah dilakukan oleh Prof. Santos selama 30 tahun dalam meneliti kepulauan
Indonesia dan akhirnya memberikan hipotesisnya bahwa Atlantis itu adalah Indonesia mesti
dihargai dalam arti seluas-luasnya. Ada spirit yang semestinya terwakili melalui apa yang
sudah dipaparkan oleh Santos sehingga paparan itu dapat pula membangkitkan spirit yang
sama pada para peneliti-peneliti dalam negeri,” papar Jaleswari. Acara kemudian ditutup
dengan makan siang bersama.

Rekomendasi untuk Indonesia

Posted 13 Jan 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa dan  luas wilayah 1.919.440 KM² jelas
termasuk negara besar. Indonesia juga sebuah negara “demokrasi” penting di dunia, yang
telah menyelenggarakan tiga kali pemilu damai secara demokratis dan ratusan kali pilkada
sejak lepas dari kungkungan rezim otoritarian selama lebih 30 tahun. Akankah itu semua
berdampak positif pada kesejahteraan rakyatnya, sebagaimana cita-cita proklamasi yang
menjadi alasan kita perlu hidup dalam suatu tatanan bernama negara? 65 tahun sudah
Indonesia merdeka. Apa arti kemerdekaan itu?

Fakta lain menunjukkan bahwa Indonesia dengan PDB 1,6 % atau Rp 98 triliun ini berada
pada tingkat kemiskinan yang cukup mengkhawatirkan yaitu 14,15 %. Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) Indonesia berada di 0,734 atau menempati urutan 111 dari 182 negara.
Sementara Indeks persepsi korupsi berada pada urutan kelima dari sepuluh negara ASEAN.
Ironisnya, angka-angka itu menunjukkan bahwa sejauh ini jalan demokrasi tidak berarti
juga makin dekat bangsa ini pada capaian kesejahteraan rakyatnya secara luas.

Demokrasi, otoritarianisme, liberal, presidensial atau apapun namanya hanyalah sekedar
alat bukan tujuan. Sasarannya  adalah mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya.
Sejauh ini pilihan demokrasi masih relevan dipertahankan. Setidaknya, suara yang
menghendaki sistem politik otoritarian sayup terdengar di antara gemuruh anak bangsa
meneriakkan demokrasi. Bagi kita, demokrasi tetap pilihan, bahkan di sektor ekonomi
sekaligus yang sudah berubah menjadi monster liberalisme yang dengan mudah menggusur
yang lemah. Peran negara bahkan hanya sekedar penyalur hasrat kapitalisme belaka.

National Press Club of Indonesia, dua hari ini urun rembuk dengan anak muda Indonesia
untuk memikirkan nasib bangsa ke depan dan merumuskan tekad baru, untuk Indonesia baru.
Dari rangkaian diskusi itu, kami menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:

1.    Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Partai Politik terus menurun, namun
keberadaan Parpol masih diperlukan untuk proses demokrasi. Partai politik perlu mengubah
perilaku  politiknya menjadi lebih  mengedepankan kepentingan rakyat daripada vested
interest parpol atau fungsionarisnya semata. Bila partai politik tidak mengubah diri dan
meningkatkan kinerjanya, aktifitas politik akan bergeser  ke wilayah politik non formal,
dalam bentuk lembaga swadaya sosial masayarakat atau komunitas publik yang terus tumbuh.
Melalui dukungan teknologi, semua itu saat ini menjadi amat mudah dilakukan.

2.    Ormas secara umum sudah kehilangan jati dirinya, kecuali sekedar menjadi kontraktor
bagi kepentingan politik yang mensponsorinya. Meskipun demikian, Bangsa Indonesia masih
memerlukan keberadaan ormas dengan reposisi untuk menyalurkan aspirasi masyarakat melintasi
batas partai dan kepentingan jangka pendek.

3.    Negara kesatuan Indonesia dapat lebih baik dari Sriwijaya, Majapahit, dan berbagai
bentuk pemerintahan sebelumnya, karena potensinya yang besar, letaknya yang strategis serta
solidaritas sosial rakyatnya yang tinggi. Tetapi modal alam dan sosial semacam itu tidak lagi
cukup, tanpa dibarengi dengan konsolidasi kekuatan masyarakat dan elitnya secara bersama-sama.
Musuh bangsa Indonesia dimasa depan bukan lagi di dalam negeri, melainkan masyarakat global
dimana Indonesia dapat memainkan peran strategisnya. Kita tidak anti pasar, tapi pada waktu
yang sama kita juga tidak ingin menjadi hamba penguasa pasar semata. Pasar adalah salah satu
alat mensejahterakan bangsa.

4.    Dengan berfokus kepada kemajuan bangsa secara keseluruhan, NPCI memandang perlu mengajak
kita semua menyingkirkan ego sektoral di berbagai bidang untuk selanjutnya bergandengan tangan
menuju Indonesia yang lebih baik, mengandalkan kemampuan sendiri dan anugerah kekayaan alam yang
diberikan Tuhan. Bangsa Indonesia harus memiliki kembali budaya malu. Malu miskin, malu korupsi,
malu terbelakang dari negara tetangga, malu karena diperbodoh orang lain dan malu pula bila tidak
mewariskan negara yang subur makmur kepada generasi penerusnya.

5.    Bangsa ini membutuhkan pemimpin masa depan yang memegang prinsip ideologis bahwa Pancasila
sebagai dasar negara dan memegang tujuan bernegara sesuai alinea keempat Pembukaan UUD 1945, dan
pekerja keras yang diimbangi oleh persepsi yang baik di mata publik.

6.    Bangsa ini telah kehilangan budaya malu yang menjadi nilai—nilai luhur, tidak hanya dari
sisi kebangsaan, tetapi juga dari perspektif sosial politik. Karena itu menumbuhkan kembali budaya
malu merupakan keharusan dari perjalanan sebuah generasi.

7.    Media sebagai pelaku sejarah yang mencatat kronik setiap peristiwa yang terjadi di negeri
ini ke depan sejalan dengan semakin meningkatnya teknologi digital dan dunia tanpa batas, untuk
turut menjaga kepentingan rakyatnya menjadi amplifier, mendidik dan tidak sekedar menjadi alat
pencitraan belaka.

8.    Masa depan Indonesia akan berada di pundak generasi muda. NPCI menilai sudah saatnya orang
muda memimpin Indonesia. Mereka terbebas dari belenggu masa lalu dan punya cukup energi untuk
mengurus bangsa ini, dengan mengambil pelajaran dari segala kekurangan pemimpin bangsa yang terdahulu.
Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang memadukan nilai-nilai, kinerja dan pencitraan.
Pemimpin yang mampu menjaga nilai kemerdekaan dalam arti sesungguhnya.

Apa yang kami sampaikan saat ini, tentu saja tidak terlalu orisinil, karena yang berkehendak untuk
Indonesia yang lebih baik bukan hanya NPCI. Kami percaya banyak orang cinta Indonesia, sebagaimana
NPCI sebagai bagian dari posisi kami to protect the public. Mari berusaha bersama  untuk Indonesia
yang lebih baik. Indonesia bisa.

Jakarta, 12 Januari 2010

Salam kami

National Press Club of Indonesia

Bersama sejumlah anak muda Indonesia:

Effendi Gazali, Fadjroel Rachman, Sebastian Salang, Rosianna Silalahi, Meutya Hafid, Poempida Hidayatullah,
Romo Benny Susetyo,Yudhi Haryono,Bambang Harymurti, Ikrar Nusa Bhakti, Jaleswari Pramodhawardani,Oheo Sinapoy,
Arief Suditomo ,Budiman Sudjatmiko,Halida Hatta, Maruarar Sirait, Hamid Basyaib, Febri Diansyah, Ismed Hasan
Putro , Dan segenap undangan lainnya, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Seminar “Indonesia Next, New Hope” Sesi Kelima: Apakah Kita Masih Punya Budaya Malu?

Posted 13 Jan 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Kelima: Apakah Kita Masih Punya Budaya Malu?
Pembicara: Febri Diansyah, Hamid Basyaib, Ismed Hasan Putro, Maruarar Sirait

Seminar “Indonesia Next, New Hope” yang digelar oleh National Press
Club of Indonesia (NPCI) selama dua hari, Senin-Selasa 11-12 Januari
2010, di Istana Ballroom Hotel Sari Pan Pacific Jakarta diakhiri dengan
sesi kelima; “Apakah Kita Masih Punya Budaya Malu?”. Tentu ini adalah
pertanyaan retorik untuk mengambil jawaban dari sebuah tanda tanya besar
seputar kasus korupsi para pejabat tanah air yang seakan jauh dari akhir.
Maruarar Sirait, Hamid Basyaib, Ismed Hasan Putro dan Febri Diansyah
didapuk sebagai pemateri di sesi kelima ini.

Anggota DPR dari fraksi PDI-P, Maruarar Sirait, sebagai pemateri pertama
menyatakan kalau orang memiliki rasa malu, maka itu akan mempengaruhi
pikiran, energi dan daya juang orang tersebut. “Seorang pemimpin harus
memiliki kemampuan yang tinggi. Pemimpin haruslah tegas bukan peragu dan
bukan safety player. Seorang pemimpin harus berani menyampaikan sesuatu
dengan sejelas-jelasnya. Jangan mengutamakan kesopanan namun mengaburkan
kejelasan. Jika harus memilih antara kejelasan dan kesopanan, sudah tentu
kejelasan lebih penting dari kejelasan,” terangnya. Terkait dengan posisinya
sebagai anggota DPR, Maruarar mengatakan ia sangat malu kalau Pansus Century
yang sejak empat bulan sebelumnya diperjuangkan tidak sampai pada tujuannya.

Hamid Basyaib, pembicara kedua, mengatakan kalau berbicara dalam konteks negara
modern, budaya malu itu malah tidak dikenal. Oleh karena itu, jangan pernah
mengandalkan malu sebagai upaya untuk pemberantasan korupsi, dan perbaikan
nasib bangsa, karena memang budaya malu tidak dikenal dalam politik. Mungkin
hanya di Jepang dimana pemimpinnya langsung mengundurkan diri sebagai bentuk
rasa malu dan pertanggungjawabannya. Sementara di negara lain, seperti di Amerika
misalnya banyak pemimpinnya yang sudah jelas terlibat kasus atau skandal tetap
berkelit. Di Indonesia sendiri, semua tersangka kasus korupsi yang diperiksa KPK
tampak biasa saja dan bahkan melambaikan tangan saat akan diperiksa. Oleh karena
itu rasa malu, moralitas tidak akan pernah bisa dijadikan landasan untuk memberantas
korupsi tapi instrument dan penegakan hukum.

Ismed Hasan Putero, Ketua Masyarakat Professional Madani dan Ketua Umum Perhimpunan
Jurnalis Indonesia, membenarkan Hamid Basyaib bahwa budaya malu tidak dikenal oleh
para pejabat di Indonesia. “Saat ini manusia Indonesia sudah kehilangan karakter
yang sesungguhnya. Hal itu terjadi akibat praktik bisnis yang membudaya pada jaman
Orde Baru. Para pengusaha dan pejabat menganut budaya jalan pintas. Kekuasaan di
Indonesia dijadikan lumbung untuk mendapatkan kekayaan,” kata Ismed. Meski demikian,
Ismed meyakini masih ada harapan budaya malu khususnya di kalangan pejabat bisa
ditumbuhkan, jika Indonesia berani seperti pemerintah Cina yang tegas memberlakukan
hukuman gantung bagi terpidana korupsi.

Pembicara terakhir dari ICW, Febri Diansyah, mengatakan budaya malu terlihat dari
kebiasaan pemerintah yang suka mengklaim keberhasilan indikator ekonomi. Seperti
contoh peningkatan CPI (Corruption Perception Index) yang meningkat 0,8% dari
terakhir tahun 2004 yang diklaim sebagai keberhasilan pemerintahan SBY. Padahal hal
itu dipengaruhi kinerja KPK yang mulai memberikan kepastian hukum dan harapan bagi
public, serta ada reformasi birokrasi di departemen keuangan RI. Meski demikian CPI
Indonesia masih berada di bawah Negara Ethiopia. Lebih lanjut Febri mengatakan kasus
suap merupakan modus yang paling banyak terungkap sebelum munculnya kriminalisasi
terhadap dua pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M hamzah. Meski mengklaim
keberhasilan KPK, upaya pelemahan terhadap KPK tetap dilakukan.

Seminar ini kemudian ditutup dengan pembacaan “Rekomendasi untuk Indonesia” oleh
Imelda Sari selaku Presiden NPCI. Permasalahan akut yang dialami bangsa ini dianggap
telah cukup meresahkan. Kesejahteraan rakyat yang merupakan amanah Pembukaan UUD 45
seakan masih terasa jauh dari ideal. Melalui rekomendasi ini, NPCI berharap tekad
menuju Indonesia baru itu bisa terealisasi dimana seluruh komponen bangsa bersatu
padu untuk mewujudkannya. NPCI yakin Indonesia bisa dan layak untuk itu.

Seminar “Indonesia Next, New Hope” Sesi Keempat: Pemimpin Baru, Harapan Baru

Posted 13 Jan 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Keempat: Pemimpin Baru, Harapan Baru
Pembicara: Arief Suditomo, Budiman Sudjatmiko dan Halida Hatta

Jika dalam sesi-sesi sebelumnya sudah dibahas bagaimana pentungnya parpol,
ormas dan sejarah maka di hari kedua (12/1) yang dibicarakan dalam Seminar
“Indonesia Next, New Hope” adalah pentingnya pemimpin baru. Benarkah ada krisis
kepemimpinan sekarang ini? Bagaimana kriteria pemimpin yang baik itu sebenarnya?
Budiman Sudjatmiko, Halida Hatta dan Arief Suditomo didaulat sebagai pembicara
untuk menjawab dan menyampaikan pandangan mereka terhadap kepemimpinan itu dan
peran anak muda di dalamnya.

Budiman Sudjatmiko, sebagai pembicara pertama, menekankan bahwa realita
Indonesia hari ini adalah proyeksi dari masa lalu. Untuk itu jika kita mau
memproyeksikan Indonesia masa depan mesti dimulai hari ini. Tugas pemimpin,
bagi Budiman, adalah menawarkan realita baru dari pijakan kekinian. “Pemimpin
yang Indonesia butuhkan adalah pemimpin yang bisa memadukan nilai-nilai, kinerja
dan pencitraan dengan bagus. Pemimpin yang bisa menjadi avatar; pemimpin yang
mampu menjadi penubuhan akan nilai-nilai kemerdekaan itu sendiri,” terang Budiman.

“Sudah saatnya ada pemimpin yang memiliki core-value. Pemimpin yang bukan
memakai politik bawang Bombay karena tak berani berbeda platform. Pemimpin mesti
berani untuk menentukan distingsi politiknya. Diferensiasi diri dalam artian berani
untuk berbeda secara manajerial, strategi dan visi. Karena sesungguhnya yang terjadi di
negeri ini bukanlah krisis pemimpin melainkan krisis di sirkulasi kepemimpinan itu
sendiri. Ini yang mesti dibenahi,” Budiman menambahkan.

Kegamangan dan kekurang percaya dirian bangsa ini pasca orba menjadi perhatian
Halida Hatta sebagai pembicara kedua.  Halida menganjurkan untuk kembali kepada substansi
bangsa ini yaitu Pancasila sebagai jalan yang lurus. Halida, mencoba menelaah pandangan
Bung Hatta, percaya bahwa kita sudah tak perlu lagi mencari-cari bentuk, mengadaptasi
konsepsi san gaya demokrasi liberal, karena Pancasila pada hakekatnya sudah merupakan
cara hidup bangsa Indonesia itu sendiri. “Kepemimpinan mesti didasarkan kepada Pancasila.
Antara ide dan praktek, Pancasila dapat dijadikan sebagai common denominator-nya; satu
platform bersama. Pancasila adalah rangkuman keseluruhan, termasuk potensi dan sikap bangsa
kita, yang mampu merekatkan potensi kita bersama,” terangnya.

“Bangsa Indonesia mesti menjadi master in their own land, not host, maka tugas
pemimpin ke depan yang baik bila mereka bisa menempatkan diri antara tahta dan mandat
untuk rakyat. Legacy-nya akan panjang melebihi umurnya jika ia bisa menempatkan dirinya
di sana,” demikian Halida mengutip kata-kata Bung Hatta di akhir penyajiannya.

Arief Suditomo sebagai penyaji terakhir  menegaskan bahwa setiap generasi
memiliki misi mereka sendiri-sendiri. Generasi hari ini memiliki tugas dan tantangan
yang berbeda dengan Generasi 1928, 1945 dan 1966 tentunya. “Generasi hari ini berada
pada zaman dimana bangsa kita telah menjadi sebuah desa besar tak berbatas yang bernama
globalisasi. Globalisasi telah benar-benar menerpa kita; pasar bebas, liberalisme,
pragmatisme, hedonisme, konsumerisme dll adalah bawaan dari globalisasi. Peran pemimpin
dan pemuda menjadi disfungsional dan disorientasi oleh karenanya,” tutur Arief.

“Konsolidasi di setiap field masing-masing mesti dilakukan. Dalam media misalnya,
jika dulu adalah kekebasan pers maka kini adalah market. Pemenuhan selera pasar kini adalah
kini yang dihadapi. Kita tak bisa menjadikan pasar sebagai musuh. Yang bisa kita lakukan
adalah kompromi secara cerdas. Media akhirnya diharapkan tidak saja sebagai institusi yang
menghibur dan mendidik saja, melainkan sekaligus menjadi amplifier dari kemajuan itu
sendiri,” demikian paparan Arief.

Sukardi Rinakit dan Andrinof Chaniago yang kebetulan hadir turut memberikan asumsinya
mengenai kepemimpinan. Sukardi melihat bahwa politik pencitraan akan tetap menjadi pilihan
di masa pemilu mendatang dan itu adalah mutlak baginya. Hal ini dikarenakan faktor pemilihnya
yang belum cerdas. Diharapkan ke depan politik pencitraan itu akan muncul dengan sendirinya
ketika value dan kinerja itu sudah berjalan semestinya. Sementara Andrinof melihat bahwa tugas
pemimpin adalah membawa kita sampai kepada tujuan sesuai dengan mandat UUD 45.

“Cara mencapai tujuan itu secara operasional itu yang belum karena yang terjadi selama ini
kemampuan mencapai kekuasaan secara operasional saja bukan pada tujuan bernegara. Agenda
berikut adalah menuntaskan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu,” harap Andrinof.

Sesi keempat kemudian dilanjutkan dengan sesi terakhir “Masihkah Kita Punya Budaya Malu?”
dengan pembicara Hamid Basyaib, Ismed Hasan Putro, Maruarar Sirait dan Febry Diansyah.
Seminar “Indonesia Next, New Hope” nanti akan ditutup dengan “Rekomendasi untuk Indonesia.”

Seminar “Indonesia Next, New Hope” Sesi Ketiga: Sriwijaya 700 Tahun, Majapahit 300 Tahun, Indonesia???

Posted 13 Jan 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Ketiga: Sriwijaya 700 Tahun, Majapahit 300 Tahun, Indonesia???
Pembicara: Bambang Harymurti, Ikrar Nusa Bhakti, Jaleswari Pramodhawardani, Oheo Sinapoy

Perdebatan soal masa depan Indonesia menonjol dalam sesi ketiga seminar
“Indonesia Next, New Hope” yang digelar National Press Club of Indonesia,
Senin (11/1). Bambang Harymurti menyebut Indonesia seyogianya mengambil
pelajaran dari perjalanan dua kerajaan masyhur di Nusantara, yakni Sriwijaya
dan Majapahit pada abad ke-7 dan ke-13 silam. Di masa itu, rute pelayaran
Nusantara menangguk untung dari lalu lintas perniagaan dari dan menuju Cina-India.

Sriwijaya merupakan kerajaan yang memanfaatkan potensi maritim di wilayahnya.
Konon sungai Musi di Palembang disebut-sebut sebagai lokasi transit kapal-kapal
niaga dari dan menuju Cina-India. Demikian pula di masa Majapahit. Sekitar abad
ke-13, jalur laut Nusantara—khususnya Pantai Utara Jawa—menjadi rute pelayaran
kapal-kapal dari Eropa yang  hendak menuju Maluku. “Di abad ke-17, seiring jatuhnya
Konstantinopel, pedagang-pedagang Eropa mencari jalur langsung ke pusat rempah,
yakni Maluku. Saat itulah VOC menjadi maskapai dagang terkaya di dunia. Oleh karena
itu dalam konteks kekinian, sudah saatnya bangsa ini merubah green strategy menjadi
blue strategy; strategi maritim,” ujar Bambang Harymurti.

Usulan agar bangsa ini menengok sektor maritim juga datang dari Jaleswari Pramodhawardani.
Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara samudra Hindia dan Pasifik, selain
itu Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia. Dengan potensi itu,
“political will saja tidak cukup. Pemerintah harus memiliki konsep yang jelas bagaimana
mewujudkan negara maritim,” jelas Jaleswari. Misalnya menyiapkan landasan yang kuat untuk
industri perikanan.

Pembicara lain, Ikrar Nusa Bhakti menyorot sisi lain dari Sriwijaya dan Majapahit. Dua
kerajaan ini adalah contoh keberhasilan menyatukan nusantara. Sriwijaya melakukannya
dengan perdagangan dan Majapahit melalui penaklukkan atau pengakuan atas kekuasaannya.
“Mahapatih Gajah Mada menelurkan Sumpah Palapa, tak akan memakan buah palapa sampai
nusantara raya terbentuk. Dari sisi pemahaman modern, sumpah ini adalah cara menyatukan
nusantara dengan cara militer dan penaklukkan,” kata Ikrar. Sejarah ini berbeda dengan
Indonesia yang kini berusia 65 tahun. “Keberadaan Indonesia dicetuskan oleh sebuah
kesepakatan bernama Sumpah Pemuda 1928,” imbuhnya. Spirit inilah yang harus selalu digali
untuk memacu Indonesia menuju cita-cita nasionalnya.

Di bagian akhir, politisi Golkar Oheo Sinapoy berpendapat untuk mengisi Indonesia, bangsa
ini perlu memberikan tempat pada kelompok muda untuk memimpin. “Di tangan kelompok muda
inilah nasionalisme baru dijahit. Korsel pun kini menyiapkan kaum muda, yakni mereka yang
berumur 40 tahunan untuk menahkodai negeri tersebut.” Selain itu, ujar Oheo Sinapoy,
“bangsa ini memerlukan kelompok menengah untuk menggerakkan demokrasi. Sayangnya,
prasyarat ini belum ada, dan kalaupun ada,” tambah Oheo, “tidak memadai.”

Seminar “Indonesia Next, New Hope” Sesi Kedua: Reposisi Ormas

Posted 13 Jan 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Kedua: Reposisi Ormas
Pembicara: Meutya Hafid, Poempida Hidayatullah, Romo Benny Susetyo, Yudhie Haryono

Sebelas tahun sejak reformasi dan demokratisasi menghumbalang Indonesia,
eksistensi ormas selalu dipertanyakan. Ini karena peran partai politik kian menonjol
dalam khazanah politik, hampir merebut seluruh hal dalam relasi negara, masyarakat
dan warganya. Sejumlah kalangan menyebut ormas kini berada di senjakala atau berada
di fase titik nadir. Pasalnya ormas kerap absen dalam sekian banyak persoalan yang
terjadi di lanskap kebangsaan. Dalam kasus Prita Mulyasari yang terjerat kasus pidana
dan perdata misalnya, peran ormas tidak kelihatan—bahkan dibandingkan parpol.
Sebaliknya, peran ormas digantikan oleh instrumen jejaring sosial (facebook). Ini adalah
sebentuk gerakan sosial yang diorganisasi secara spontan dan tak terlalu bertumpu
pada peran sentral tokoh.

Andaipun ditarik dalam spektrum yang lebih luas, peran ormas saat ini makin luntur.
Benny Susetyo termasuk yang skeptik dengan ormas. Menurutnya ormas telah kehilangan
integritas rangkap dua, dari sisi kelembagaan atau organisasinya dan unsur-unsur yang m
engisinya, termasuk pemimpin muda. Sebaliknya ormas terkungkung pada politik jangka pendek.
“Berorientasi pada kekuasaan dan tak memiliki akar ke grass root,” jelas Romo Benny.
Ini beda sekali dengan generasi 1928 yang memiliki target jangka panjang dan visi Indonesia Merdeka.

Generasi 1945 dan 1966, setidaknya menurut Benny Susetyo, bukanlah contoh yang layak diacu.
Sikap pragmatis dan mudah dibawa arus, kerap kali membuat ormas tak memiliki visi di bawah
kepemimpinan dua generasi tersebut. Sebaliknya mereka yang memimpin ormas terbelenggu dan berada
dalam  posisi subordinat dari para seniornya. “Kaum muda mestinya tidak terikat dengan senioritas,
justru harus memutus ketergantungan dari generasi di atasnya. Bila tidak, ormas bisa
kehilangan  tumpuan dan eksistensi,” kata Romo Benny.

Untuk itu, Benny Susetyo mengimbau kaum muda untuk kembali kepada spirit 1928. Kaum muda
harus menjadi pilar dari revolusi berpikir yang lalu bermetamorfosis menjadi revolusi budaya.
Pasalnya kemandegan berpikir telah membuat ormas kepemudaan tak memiliki visi dan kehilangan
orientasi. Yang kedua, menghidupkan kembali ideologi perjuangan. Dari sana bisa diretas kembali
peran ormas dalam merespons tantangan zaman. “Perlawanan dimulai dari perjuangan berpikir dan
bukanlah perlawanan kata-kata,” tegas Sekretaris Dewan Nasional Setara ini.

Apabila Romo Benny cenderung skeptik, tidak demikian dengan Poempida Hidayatullah. Tokoh
yang berkecimpung dalam ormas kepemudaan ini lebih realistis dalam menilai ormas. Adalah fakta
tak terbantah jika hingga saat ini ormas masih memiliki sejumlah masalah ‘laten’. Egosentris
dan terikat pada sosok, kaderisasi belum berjalan hingga struktur organisasi yang menghambat
gerakannya. Politisi Golkar ini pun mengakui jika ormas masih kerap jadi alat elite untuk
mendukung kekuasaan. “Budaya OKP bersifat transaksional dan berorientasi kekuasaan,” papar Poempida.
Paling sedikit 72 ribu organisasi massa di Indonesia diidentifikasi jadi alat kekuasaan dan bisnis
keluarga. Dari 80 ribu ormas, hanya 8.000 yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai ormas.

Maka tak heran jika ormas absen saat Mbah Minah yang terjerat pasal pencurian akibat tiga
buah kakao atau Prita Mulyasari. “Tak ada advokasi dari ormas, ” aku Poempida. Tepat di sini,
Poempida menyebut ada penuranan nilai di kalangan ormas. Padahal nilai-nilai itulah yang jadi
tumpuan gerak dan perjuangannya.

Reposisi ormas, menurut Poempida, sangat membutuhkan angkatan muda. Sebab kalangan
inilah yang memiliki spirit kuat, idealis, patriotik serta mempunyai daya tahan dan daya juang.
Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda. Mereka adalah aktor setiap langkah perjalanan bangsa
Indonesia. Poempida mengimpikan peran ormas seperti zaman pra kemerdekaan, di mana kala itu
ormas gigih membesarkan dan mengisi nasionalisme Indonesia.

M. Yudhie Haryono lain lagi. Ia termasuk yang pesimistis dengan ormas, dalam hal ini
Yudhie membatasi ormas sebagai social movement atau gerakan sosial. Mengutip Riset Demos,
Yudhie menunjukkan bahwa aktor dan metode politik zaman Orde Baru dan reformasi belum berubah.
Bahkan aktor mahasiswa dan aktivis LSM—yang notabene memegang peran penting dalam revolusi
1998—tidak masuk dalam 8 besar aktor-aktor yang meng isi reformasi. Sebaliknya aktor-aktor
gerakan sosial berpindah ke gerakan politik demokrasi.

Yang runyam, politisi demokrasi hanya berpikir dan bertindak next election dan bukan
next generation. “Tak urung peta ormas dan gerakan social berada pada ‘lampu merah’. Sebaliknya
gerakan politik pada lampu hijau. Kedua gerakan itu tak berupaya menjadi gerakan saling mengisi,
justru berjalan sendiri-sendiri di tengah kuatnya cengkeraman kapitalisme global.

Direktur Eksekutif Nusantara Centre ini menduga lesu darahnya ormas dan gerakan sosial
di tanah air karena kondisi majemuk/pluralnya masyarakat. Mengutip JS. Furnivall (1939), masyarakat
majemuk adalah masyarakat yang terdiri atas beberapa golongan sosial yang hidup berdampingan tapi
tidak berbaur dalam satu unit aksi ekonomi-politik. Mereka punya fungsi ekonomi-politik berbeda
dan hidup terpisah sebagai tata sosial terpisah.

Ciri paling utama masyarakat majemuk, demikian Yudhie, adalah tidak ada kehendak bersama
(cita-cita nasional), kecuali dalam urusan penting seperti pertahanan terhadap agresi dari luar.
“Kemajemukan dalam konteks ormas atau parpol itu menjadi kendala dalam tujuan bangsa. Inilah
mengapa diperlukan platform bersama yang merumuskan tujuan bangsa yang hendak diwujudkan,” tegasnya.
Tugas kontinyu dari masyarakat majemuk adalah meleburkan “ke-aku-an” menjadi “ke-kita-an” dan “ke-kami-an”.

Pembicara lain, Meutya Hafid masih punya harapan—kalau bukan optimistik terhadap eksistensi
dan peran ormas. Politisi muda Golkar ini menyelami situasi di masa Orde Baru untuk memupuk optimisme.
Sebagai dimaklum, Orde Baru menjalankan proyek depolitisasi selama berkuasa. Karakter organisasi yang
muncul di era Orde Baru adalah organisasi yang koorporatis terhadap penguasa seperti KNPI (pemuda),
HKTI (tani), SPSI (buruh), SMPT (mahasiswa). Revolusi 1998 mulai mengendurkan tali kekang Negara itu
atas ormas. Namun, ormas kurang membangun basis massa di akar rumput. “Realitas ini terlihat dari
aksi-aksi yang dilancarkan bersifat mobilisasi dan bukan mass forming,” papar Meutya. “Tak heran
bila masih banyak warga Negara berbicara politik tetapi belum terkerangka dalam struktur politik
yang tersedia.”

Tantangan ke depan, demikian Meutya, adalah mengikis depolitisasi tersebut. Pada saat sama
diperlukan reposisi organisasi massa sebagai basis solidaritas politik. Meutya tak menutup diri
jika ormas harus memiliki garis politik yang tegas—sebagaimana dikonstruksi oleh Hegel bahwa
masyarakat sipil merupakan agen demokratisasi. Ketegasan garis politik ini akan memandu metode dan
praktik pengorganisasian massa. Di masa sekarang, buble politik, massa dipandang sebagai komoditas
politik. Jadi, “pengorganisasian massa menjadi antitesa untuk menjawab tugas melaksanakan pendidikan politik.”

Meutya mencontohkan gerakan “Koin untuk Prita” adalah ekspresisolidaritas yang maju dari
pengorganisasian massa. Masalahnya Indonesia tak hanya memiliki satu Prita atau Mbah Minah, namun
jutaan lagi yang tak memiliki akses untuk diekspos media. “Dalam ranah inilah tugas organisasi
massa membangun solidaritas horizontal untuk membuat loncatan kualitatif bagi masyarakat yang
terfragmentasi serta memiliki kesadaran melodramatik.” Kesadaran melodramatik bercirikan ingatan
yang pendek, belas kasihan (empatik), penilaian yang tidak dalam, mengharu biru dan gampang berubah.
Yang positif, kesadaran ini memiliki sisi positif dan terbukti mampu menggerakkan solidaritas massa secara luas.

Satu lagi yang ditekankan Meutya, adalah bagaimana merestorasi semangat gotong royong dan
solidaritas. Rasa senasib dan sependeritaan merupakan material dasar untuk pembangunan organisasi
di kalangan massa. Jadi pekerjaan rumah organisasi massa untuk peka terhadap masalah yang dihadapi
rakyat. Pada saat sama, perangkat teknologi informasi seperti facebook, twitter dan seterusnya akan
makin mendapat tempat. Dengan kian berperannya perangkat teknologi itu, tokoh bukanlah sentral,
melainkan hanya mengorganisasi gerakan. “Dalam gerakan Koin untuk Prita memang ada tokoh, tapi ia
hanya berperan dalam menjalankan organisasi.”

Meutya menutup dengan satu kalimat singkat: Jangan pernah matikan harapan untuk ormas.

Seminar “Indonesia Next, New Hope” Sesi Pertama: “Masih Percayakah Kita dengan Parpol?”

Posted 13 Jan 2010 — by apik
Category Corner, Event, Focus, resource

Press Release Seminar “Indonesia Next, New Hope”
Penyelenggara: National Press Club of Indonesia
Senin-Selasa, 11-12 Januari 2010
Istana Ballroom, Hotel Sari Pan Pacific Jakarta
Sesi Pertama: “Masih Percayakah Kita dengan Parpol?”
Pembicara: Effendi Gazali, Fadjroel Rahman, Sebastian Salang

Paradigma yang sedang bermunculan dan berkembang pesat di masyarakat
hari ini dijadikan sebagai topik pertama di hari pertama (11/1) dari
Seminar “Indonesia Next, New Hope”; masih percayakah kita dengan
partai politik? Topik ini dianggap penting oleh National Press Club
of Indonesia, selaku penyelenggara, sebagai wujud keprihatinan atas
kehidupan berbangsa yang makin hari makin terasa kemundurannya.
Peranan partai politik yang dianggap mampu sebagai penyambung suara
rakyat kepada para pemimpinnya semakin tidak dirasakan signifikansinya.

Effendi Gazali, Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI,
sebagai pembuka pada sesi pertama memberikan sebuah Matrix kepada
peserta seminar untuk menjawab topik yang diberikan. Ia seakan mencoba
bermain secara kuantitatif untuk mengambil suatu konklusi terhadap
penilaian publik terhadap kepercayaan mereka akan peran partai.
Ia memasukkan elemen-elemen seperti tingkat political efficacy publik,
tingkat kinerja KPU, Panwaslu, hingga tingkat kepuasan publik itu
sendiri di bidang ekonomi, hukum, keamanan, sosial budaya dan hal-hal
terkait lainnya. Komponen-komponen ini kemudian dihitung melalui
strategi tertentu hingga didapatkan suatu nilai yang akan menjawab
seberapa percayakah kita kepada parpol.

“Inti dari pembuatan Matrix ini adalah fakta empirik yang didapat
dari tingkat political efficacy publik itu sendiri. Bahkan hasilnya
bisa mencengangkan jika hasilnya mencapai angka 0, 0000…. Gambaran
ini bisa menunjukkan adanya kesalahan pada bagian-bagian pembagi
pada Matrix yang dapat dijadikan acuan dari keseluruhan paradigma
politik publik itu sendiri. Sudah saatnya kita perbaharui poin-poin
ini untuk menjawab pertanyaan di atas,” demikian Effendi mengakhiri.

Fadjroel Rahman, pembicara kedua, menggagas “Tugas Pertama Partai:
Indonesia Bebas Korupsi” sebagai judul presentasinya.
“Sistem perpolitikan di Indonesia itu sendiri cenderung menjadikan
pemilu itu sebagai ATM; menjadikan kompetisi perpolitikan sebagai
lahan mencari uang,” tegas Fadjroel.

Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) ini memberi
penekanan akan pentingnya membersihkan unsur-unsur korup dalam partai
politik. Fadjroel berharap dengan munculnya calon-calon independen
dapat menciptakan kualitas kompetisi yang mampu menciptakan kualitas
kedewasaan perpolitikan itu sendiri. “Indonesia bebas korupsi semoga
juga menjadi harapan banyak orang di negara ini yang menginginkan
perubahan menuju Indonesia baru” demikian bakal calon presiden di
pemilihan umum lalu dari jalur non-partai ini berharap.

Sebastian Salang selaku Koordinator FORMAPPI menyajikan makalahnya
yang berjudul “Menggugat Partai Politik” sebagi penyaji terakhir
di sesi pertama. Bagi Sebastian, parpol sangat diperlukan oleh semua
negara demokrasi. Dengan adanya parpol yang kuat dan mapan dianggap
mampu untuk menyalurkan berbagai tuntutan warganya dalam pemenuhan
kebutuhan dasar masyarakatnya. Kekecawaaan yang timbul pada parpol
malah mencipta semangat untuk membentuk parpol baru sebagai bentuk
koreksi dari parpol sebelumnya.

“Secara umum, partai politik memiliki empat fungsi utama; agrerasi dan
artikulasi kepentinga, pendidikan politik, kaderisasi dan rekrutmen.
Setiap fungsi memiliki keterkaitannya dan mempengaruhi dinamika
demokrasi suatu negara,” kata Sebastian. Sebastian optimis akan
peran parpol jika parpol itu sendiri mampu mengkoreksi dirinya sendiri.
Parpol yang anti kritik menjadikan kemajuan politik menjadi semakin mundur.
Sebastian menekankan, “kita semua semestinya menaruh harapan pada parpol
supaya parpol membenahi karena ke depan parpol akan memainkan peranan
penting sebagai penghubung antara pemerintah negara (the state)
dengan warga negaranya (the citizens).”

Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang kebetulan hadir dalam seminar,
turut menyampaikan tanggapannya. “Perubahan itu penting. Kalau bangsa
ingin maju, perubahan itu harus terjadi. Pada konteks itu saya
mau perubahan itu terjadi.”

Kita bukan tak butuh parpol tapi justru inilah bentuk kepedulian itu
sendiri bagaimana menjadikan parpol menjadi lebih kompentitif seperti
misalnya memasukkan calon independen itu sendiri. “Yes, we do have a
new hope,” Rosiana Silalahi selaku moderator,
mengakhiri sesi pertama.

Page 10 of 13« First...89101112...Last »