Jumat pagi pekan lalu, usai menikmati santapan favorit gulai pakis di kawasan Purus, saya melangkahkan kaki ke pantai yang hanya berjarak 200 meter dari pinggir jalan raya di Kota Padang. Sebuah tali panjang, yang ditarik oleh sekitar 10 orang, baik dewasa dan anak anak bekerja keras, untuk menunggu hasil tangkapan ikan dengan menebar pukat tapian, yang ditarik ke tengah laut…
“Susah, Bu, kini dapat ikan,” seorang nelayan berkata pada saya. Namun saya masih ingat, betapa wajah wajah ini tetap optimis menyambung hidup, ada yang bersiap tetap melaut meski cuaca tak begitu bagus pagi itu. Ada yang baru saja tiba dari melaut, tak tampak kecewa dengan hasil tangkapan ikan yang minim. “Ndak rezeki biasa seh tu Bu,” begitu ujarnya.
Harga solar yang tinggi adalah salah satu yang menambah beban kesulitan para nelayan ini, bukan hanya di Padang namun juga di pulau Panggang kepulauan Seribu Jakarta, saya menyaksikannya saat mengunjungi wilayah tersebut tiga pekan lalu.
Bagi masyarakat nelayan tradisional, budaya melaut tak bisa tergantikan dengan budaya yang mereka sebut “orang gajihan”, seperti menjadi pegawai pemda atau guru sekalipun. Menjadi pegawai, karyawan, guru bagi mereka dipandang kelas sosialnya sudah jauh lebih tinggi.
Pergeseran pola pikir ini justru yang hidup di kalangan anak anak nelayan, yang sudah banyak tak lagi mau mengikuti profesi orang tua mereka sebagai nelayan. Ikan semakin sedikit untuk ditangkap dan kehidupan nelayan tradisional yang tak tentu, adalah tantangan sesungguhnya bagi para pembuat kebijakan bagaimana meningkatkan kesejahteraan bagi keluarga nelayan. Menjadi nelayan kembali, adalah pilihan terakhir jika seorang anak tak mampu lanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi.
Namun di sisi lain saat saya menikmati datang ke kawasan wisata di pasar Atas Bukit Tinggi, yang penuh dengan pedagang tradisional. Ada Amai (ibu) penjual jagung rebus di Pasar Atas Bukit Tinggi, Uni Jun pedagang pisang sapiek langganan saya saat kuliah dulu, dan pedagang telekung dan bordiran, masih seperti yang dulu namun kini ada yang sudah memiliki kios termasuk nasi kapau Uni Lies. Mereka ramah, dengan sigap menawarkan barang dagangannya tentu saja dengan harga empat kali lipat lebih mahal dari masa saya kuliah dulu, pada awal tahun 90an.
Mereka juga mengeluhkan, meski harganya jauh lebih mahal, namun pendapatannya yang diperoleh jauh dari penghasilan mereka sepuluh tahun lalu. Bordiran mereka harus bersaing dengan bordiran Tasik, belum lagi harga bahan baku yang meningkat tajam. Seperti biasa saya menikmati tawar menawar di pasar tradisional ini. Tawar menawar adalah kekhasan sebuah pasar tradisional, yang tak bisa saya temukan saat belanja ke supermarket yang semakin menjamur di mall mall pusat kota, terutama di Jakarta.
Perjalanan pekan lalu, juga memberikan hal yang berkesan bagi saya, saat bertemu dengan seorang pemilik hotel lama, yang cukup terkenal di Bukit Tinggi pada tahun 70an, namanya pak Dimens. Saat dia bercerita bagaimana ayahnya, Basir Rahman yang merantau pada tahun 50an, membangun pasar tradisional Blok M di tahun 1967 dan membuka kawasan Kebayoran Baru yang masih penuh rawa di masa tersebut sehingga menjadi kawasan elit di Jakarta Selatan dengan adanya kawasan Blok M. Bahkan karena sebagian besar pedagang saat itu yang berdagang kebanyakan orang Minang, Ali Sadikin kala itu menyebut “Blok M” sebagai bloknya orang Minang. Meski usahanya tak semaju dulu, namun ia optimis hotelnya yang harganya lebih murah kedepan setelah renovasi, akan lebih tinggi tingkat huniannya, dibandingkan hotel bintang empat di Bukit Tinggi seperti The Hills atau Pusako.
Saya membayangkan optimisme mereka, baik nelayan, pedagang dan pemilik hotel, bahwa usaha harus dilakoni dengan kerja keras akan mendatangkan hasil yang bagus. Krisis ekonomi yang melanda negeri ini, memang terasa pada harga pangan, otomotif, elektronik dan material untuk perumahan yang ikut melambung.Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh para pembuat kebijakan kedepan. Bagaimana menghimpun potensi mereka, dan memberikan optimisme melalui infrastruktur dan kebijakan yang menstimulus agar roda perekonomian di bawah tetap terbuka peluang bagi rakyat kecil untuk berkreasi. Di tengah ancaman PHK yang semakin terbuka pada saat perusahaan perusahaan besar, harus mengencangkan ikat pinggangnya akibat terseret tsunami pasar uang global beberapa saat yang lalu. Jika semakin banyak wiraswasta, atau pengusaha kecil yang tak bergantung pada gaji semata amatlah melegakan saya.
Musim liburan memang telah tiba, di akhir tahun ini. Saya teringat seseorang yang bertanya pada saya, apakah kondisi saat ini yang kita inginkan? Atau kita harus melangkah lebih maju lagi sebagai sebuah nation? Ada banyak hal yang kita peroleh, jika kita mau belajar dari kegagalan kita mengelola perekonomian kita pada tahun 1998. Kuncinya pada prinsip kemandirian ekonomi, yang membuka peluang adanya kreatifitas rakyat, memberi optimisme dengan kebijakan yang tepat di saat seperti ini, bukan sekedar karena mengikuti teori dunia tetapi berpijak pada kearifan lokal dan potensi yang dimiliki negeri ini. “Ada banyak orang pintar di negeri ini, yang diharapkan pengetahuannya didedikasikan untuk rakyat, mencapai cita cita kemerdekaan kita. Semoga Allah SWT meridhloi langkah kita di tahun 2009 dengan optimis.
Selamat Tahun Baru 2009!
[Catatan: Tulisan ini juga diposting di account Facebook saya]