JAKARTA, SELASA — Anak lelaki tertua Ibnu Sutowo membantah buku biografi ayahnya yang diluncurkan kemarin malam, Senin (15/12), sebagai bentuk pembelaan diri terhadap sejumlah kesalahan yang dituduhkan kepada ayahnya terkait utang jutaan dollar AS yang ditinggalkan seusai menjabat sebagai Dirut Pertamina pada era Soeharto.
Pontjo Sutowo yang sekarang mengelola Nugra Santana Group yang merupakan warisan ayahnya mengatakan, Ibnu sendiri semasa hidupnya memang enggan mengungkapkan dirinya melalui biografi ini. “Karena khawatir dianggap sebagai pembelaan diri yang sebenarnya dia tidak perlukan lagi, terlebih ketika dia wafat tahun 2001,” tutur Pontjo dalam peluncuran buku yang bertajuk Ibnu Sutowo: Saatnya Saya Bercerita!.
Menurut Pontjo, pemikiran dan tindakan Ibnu justru dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa yang besar. Ibnu dinilainya mampu menyusun sebuah solusi dan manfaat bagi kemajuan perekonomian bangsa Indonesia. Melalui buku ini, Pontjo berharap masyarakat dapat mengetahui sisi lain ayahnya, di tengah cibiran orang terhadap ‘dosa’ ayahnya.
“Hanya dengan pemikiran baru kita bisa menyelesaikan persoalan bangsa ini, seperti di bidang ekonomi. Menjadi tuan di atas negaranya sendiri di bidang kesejahteraan, dan bukan hanya bagi sebagian kelompok orang, melainkan seluruh bangsa Indonesia,” tutur Pontjo.
“Salah satu pesan dari buku ini yang menjadi slogan ayah saya adalah ‘jangan berwawasan bodoh’. Sudah sepatutnya, dengan banyak orang-orang pintar di bangsa ini, yang pengetahuan dan pengalamannya diharapkan, justru diabdikan untuk kepentingan bangsa,” lanjut pengusaha yang andal di bidang pariwisata ini. LIN
Sumber: Kompas.com