Press Release Diskusi Panel Yayasan Suluh Nuswantara Bakti
“Indonesia Asal Peradaban Dunia”
Sabtu, 27 Maret 2010, 09.30-13.00 WIB
Libra Room Executive Club Hotel Sultan
Terbitnya sebuah buku berjudul ATLANTIS-The Lost Continent Finally Found
(The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization) yang ditulis
oleh seorang geolog dan fisikawan nuklir Brazil, Prof. Arysio Santos,
telah memancing sejumlah wacana terkait di mana sebenarnya lokasi Atlantis
itu sebenarnya. Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), seolah tak ingin
ketinggalan, mengadakan sebuah diskusi panel bertajuk “Indonesia Asal
Peradaban Dunia” pada hari Sabtu tanggal 27 Maret 2010 bertempat di
Libra Room Executive Club Hotel Sultan Jakarta. Sejumlah pembicara dari
berbagai disiplin keilmuan kemudian berbagi pendapat mereka, pro dan kontra,
terhadap hasil penelitian selama 30 tahun Prof. Santos yang mengatakan bahwa
Atlantis itu berada di Indonesia.
Dalam sambutannya sekaligus membuka diskusi panel, Pontjo Sutowo selaku Ketua
Pembina YSNB mengatakan pentingnya suatu strategi perubahan pola pikir (mindset)
dalam membangkitkan semangat kebangsaan yang ia anggap telah semakin tereduksi
akhir-akhir ini. Identitas sebuah bangsa menjadi suatu yang penting di dalam
era globalisasi seperti sekarang ini yang telah meniadakan batas-batas negara.
Ia berharap melalui diskusi panel ini dapat timbul semacam keinginan kolektif
untuk menggali kembali mimpi-mimpi besar dari masa lalu itu dan kemudian mampu
memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan itu ke kancah internasional.
Diskusi panel kemudian terbagi menjadi dua sesi di mana setiap sesi diisi
oleh tiga orang pembicara.
Sesi pertama dimulai oleh Ir. Oki Oktariadi. Sebagai seorang pemerhati geologi
lingkungan sepertinya Oki berusaha untuk membuktikan teori Santos melalui sebuah
paparan menarik dalam presentasinya terkait dengan mitos, pengetahuan dan ilmu
tentang Atlantis. Sejumlah bukti-bukti geologis ia paparkan untuk mendukung hasil
penelitian Prof. Santos yang bahkan tak pernah menjejakkan kakinya ke Indonesia
itu. Selain lokasi utama Atlantis yang disebut Prof. Santos ada pada paparan
Sunda Land, Oki memberi beberapa titik lain yang menurutnya bisa untuk diteliti
lebih lanjut. Pulau Bali, bagi Oki, termasuk daerah yang layak untuk diteliti
karena sejak dulu daerah ini sering disebut sebagai Pulau Dewata; sama seperti
yang digagas Prof. Santos di dalam bukunya.
”Melalui buku Santos ini terbuka semacam peluang bagi Indonesia untuk mengajukan
wisata ilmiah berdasarkan kontroversi betul atau tidaknya Atlantis itu berada
di Indonesia. Wisata ilmiah ini dapat dijadikan satu bentuk apresiasi kita
terhadap penelitian itu sekaligus dapat ditujukan untuk memunculkan semacam
curiousity kepada generasi penerus bangsa. Jika memang di kemudian hari teori
ini dapat dibuktikan secara ilmiah keberadaannya maka ini adalah penemuan ilmiah
terbesar sepanjang masa,” ujar Oki mengakhiri paparannya.
E.S. Ito, seorang novelis yang sudah menerbitkan dua karya best seller; Negara
Kelima dan Rahasia Meede, menjadi pembicara selanjutnya. Ia menceritakan proses
kreatifnya dalam mencipta novel pertamanya, Negara Kelima, yang juga menceritakan
tentang Atlantis. E.S. Ito dan Prof. Santos sama-sama memakai Timaeus dan Critias
karangan Plato yang menjadi satu-satunya referensi tertulis tentang benua Atlantis
yang hilang.
“Sejarah itu seperti tulang yang berserakan dan hari ini kita masih berusaha
untuk merangkainya berdasar susunan yang sistematis. Atlantis memang benar
memberi inspirasi yang luat biasa namun keberadaannya malah semakin membebani
sejarah kita yang tak pernah selesai. Kita selalu mengadopsi pemikiran-pemikiran
yang berasal dari bangsa lain namun kita gagal dalam menangkap pesan-pesan dari
anak bangsa sendiri. Jauh sebelum Montesquieu menggagas trias politika orang
Minang sudah mengenal konsep tigo tali sapilin sebagai basis pemerintahan mereka.
Dalam hal itulah sejarah menjadi proses pembelajaran dalam pendewasaan kita sebagai
sebuah bangsa yaitu dengan menggali kembali kearifan lokal yang kita miliki,” ungkap
E.S. Ito supaya kemegahan Atlantis yang disebutkan Prof. Santos tak melenakan kita
terhadap kejayaan masa lalu.
Radhar Panca Dahana, sebagai pembicara terakhir di sesi pertama, menyayangkan
bagaimana sejarah kita sendiri ternyata lebih banyak ditentukan oleh data, bacaan,
analisis dan penafsiran ahli-ahli di luar kita terutama terkait pola pikir kita
dalam memandang konsep peradaban. Hal ini, bagi Radhar, ternyata pengaruhnya tidak
kecil dan ini terlihat pada bagaimana cara kita menentukan sistem dan cara kita
berpolitik, berekonomi atau berhukum.
“Dunia ini sesungguhnya dibentuk oleh dua jenis besar peradaban; kontinental dan
maritim. Sejak dahulu hingga hari ini, sesungguhnya telah terjadi pertarungan
luar biasa antara dua kelompok ini. Aneksasi itu tercatat dalam sejarah dunia
pada sistem kolonialisasi dan imperialisasi yang dibawa Eropa yang padahal
seharusnya adalah jati diri bangsa kita yang peradabannya adalah maritim. Ada
hal-hal yang besar di diri kita yang selalu ditutup-tutupi oleh kekuatan besar
dari luar, terutama kaum orientalis Eropa. Sesuatu yg tertutupi itu di-repressed
dan ditumbuhkembangkan oleh para kolonialis. Oleh karena itu kita mesti mencari
jati diri kita sendiri itu yaitu dengan menumbuhkan satu manusia android, hibrida,
dalam menilik kembali apa yang sudah bangsa kita miliki di masa lalu dan membentuk
avatar baru Indonesia,” harap Radhar.
Untuk sesi kedua kemudian dibuka oleh Dr. Agus Aris Munandar, seorang pakar arkeologi
dari FIB UI, terkait dengan peninggalan-peninggalan arkeologis prasejarah tertua di
Nusantara. Berdasar penelitiannya terdapat beberapa contoh dataran tinggi di Indonesia
yang memiliki peninggalan prasejarah yang terkait dengan ritual keagamaan antara lain
adalah: (a) Bada, di wilayah Sulawesi Tengah, situs tersebut memiliki arca-arca batu
monolitik berukuran besar, selain benda-benda batu lainnya seperti menhir dan kalamba,
(b) dataran tinggi Parahyangan di Jawa Barat juga mempunyai banyak peninggalan kuno
misal bangunan punden-punden berundak, (c) Dieng, merupakan dataran tinggi yang
mempunyai peninggalan bangunan candi-candi Hindu dengan arsitektur tergolong tua di
Jawa, dan (d) dataran tinggi Basemah (Pasemah) di Sumatera Selatan yang juga dipenuhi
oleh berbagai peninggalan kuno yang sangat mungkin berhubungan dengan kegiatan keagamaan.
Selain itu, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan yang masih belum dapat dipahami yang
dikarenakan kurangnya data-data terkait terutama mengenai peninggalan-peninggalan
peradaban Atlantis.
Agus berharap melalui diskusi-diskusi semacam ini sesungguhnya dapat memancing minat
akademisi dalam mempelajari kembali artefak-artefak prasejarah yang tersebar di segala
penjuru Nusantara dengan lebih serius dan kemudian berusaha untuk mencari data-data
tertulis dari mitos-mitos atau folklore terkait dengan kehancuran Atlantis itu sendiri.
Ia berharap pemerintah untuk ikut berpartisipasi aktif dalam mewacanakan tentang Atlantis
itu Indonesia supaya terjalin kesinambungan dan tak terpecah-pecah.
Agung Bimo Sutejo, peneliti dari Yayasan Turangga Seta, mencoba melihat peninggalan-
peninggalan arkeologis dari sisi yang berbeda dengan Dr. Agus selaku pembicara sebelumnya.
Ia menemukan beberapa kejanggalan-kejanggalan di beberapa candi seperti Candi Cetho dan
Candi Panataran. Jika sejarah dunia selama ini meyakini bahwa bangsa Sumeria sebagai
bangsa pertama yang memperkenalkan konsep-konsep peradaban berusaha dibantah oleh Agung
dengan memberikan bukti-bukti seperti yang terdapat di relief-relief candi tersebut.
Tidak hanya di situ, Agung kemudian memperlihatkan bagaimana kesamaan-kesamaan dua candi
tersebut dengan beberapa situs penting yang tersebar di belahan dunia lainnya.
Ia berasumsi bahwa sesungguhnya teknologi yang kita miliki di masa lalu sudah sedemikian
canggihnya sehingga bisa menciptakan kesamaan-kesamaan arkeologis di seluruh dunia.
Ini membuktikan teori Prof. Santos bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia.
“Sejarah negara kita sesungguhnya sangat besar dan panjang. Namun jangan hanya nilai
sejarahnya saja yang dicari tapi kekuatan dan teknologi apa yang diterapkan oleh nenek
moyang kita harus kita aplikasikan kembali dan tidak dalam anggapan klenik. Diharapkan
melalui diskusi ini, segera diadakan komunikasi dengan peneliti/asisten Prof. Santos
untuk menindaklanjuti hasil dari diskusi hari ini,” pinta Agung.
Jaleswari Pramodhawardani, peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, adalah
pembicara terakhir. Jaleswari berpikir bilamana teori Prof. Santos ini benar maka akan
dahsyat efek yang akan ditimbulkan kepada Indonesia. Walaupun sesungguhnya sudah ribuan
penelitian telah dilakukan di seluruh dunia tentang Atlantis, termasuk dimana lokasi
persis atlantis itu, tapi apa yang dilakukan Santos layak pula untuk diapresiasi karena
menurutnya hasil penelitian itu cukup mengusik keindonesiaan kita hari ini.
“Apa yang sudah dilakukan oleh Prof. Santos selama 30 tahun dalam meneliti kepulauan
Indonesia dan akhirnya memberikan hipotesisnya bahwa Atlantis itu adalah Indonesia mesti
dihargai dalam arti seluas-luasnya. Ada spirit yang semestinya terwakili melalui apa yang
sudah dipaparkan oleh Santos sehingga paparan itu dapat pula membangkitkan spirit yang
sama pada para peneliti-peneliti dalam negeri,” papar Jaleswari. Acara kemudian ditutup
dengan makan siang bersama.